DEFINISI
Istilah
tunarungu mungkin tidak asing lagi ditelinga kita, bahkan sebagian
besar masyarakat sudah mengenal dengan berbagai macam istilah lain,
misalnya: Tuli, bisu, cacat dengar atau kurang dengar. Menurut bahasa
istilah tuna rungu berasal dari kata “tuna” yaang berarti kurang, dan
“rungu“ yang berarti pendenggaran. Orang atau anak dikatakan tuna rungu
apabila ia tidak mampu mendengar suara. Dari batasan beberapa ahli,
disimpulkan pengertian tunarungu adalah seseorang yang mengalami
kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik sebagian atau
seluruhnya yang diakibatkan karena tidak berfungsinya sebagian atau
seluruh alat pendengaran, sehingga ia tidak dapat menggnakan alat
pendengarannya dalam kehidupan sehari-hari yang membawa dampak terhadap
kehidupannya secara kompleks.
KLASIFIKASI
Pada umumnya anak tunarungu digolongkan atau diklasifikasikan menjadi “dua” kelompok besar, yaitu: tuli dan kurang dengar.
- Orang dikatakan TULI apabila seseorang tersebut mengalami kehilangan kemampuan mendengar, sehingga menghambat proses informasi bahasa melalui pendengaran, baik memakai ataupun tidak memakai alat bantu dengar.
- Orang kurang dengar adalah seseoraang yang mengalami kehilangan sebagian kemampuan mendengar, tetapi ia masih mempunyaai sisa-sisa pendengaran dan memungkinkan memakai alat bantu mendengar sebagai sarana untuk membantu proses keberhasilan informasi bahasa melalui pendengaran.
Klasifikasi tuna rungu menurut Samuel A.kirk.
- 0 dB ( decible )
Menunjukkan pendengaran yang optimal.
- 0 – 26 dB
Menuunjukkan pendeengaran yang normal.
- 27 – 40 ( tuna rungu ringan )
Mempunyai
kesulitan mendengar bunyi-bunyi yang jauh, membutuhkan tempat duduk yang
tempatnya strategis dan mmembutuhkan terapi wicara.
- 41 – 55 ( tuna rungu sedang )
Mengerti bahasa percakapan, tidak dapat mengikuti diskusi kelas, membutuhkan alat bantu dengar dan terapi wicara.
- 56 – 70 ( tuna rungu agak berat )
Hanya bisa
mendengar suara dari jarak yang dekat, mempunyai sisa pendengaran untuk
belajar bahasa dan berbicara dengan alat bantu mendngar dan denggan cara
khusus.
- 71 – 90 ( tuna rungu berat )
Hanya bisa
mendengar bunyi yang sangat dekat, kadang-kadang dianggap tuli,
membutuhkan yang intensif, membutuhkan alat bantu mendengar dan latihan
berbicara secara khusus.
- > 90 ( tuna rungu sangat berat / berat sekali )
Mungkin
sadar akan adanya bunyi atau suara dan getaran, banyak bergantung pada
penglihatan dari pada pendengaran untuk proses menerima informasi dan
yang bersangkutan dianggap tuli.
DETEKSI KETUNARUNGUAN
Mendeteksi
kehilangan pendengaran merupakan persoalan tekhnis, dimana mengenali
anak tuli lebih mudah di banding mengenali atau menemukan anak yang
kurang dengar.
- Gejala umum anak kurang dengar ringan antara lain :
a. Anak yang acuh tak acuh, kebingungan atau penurut.
b. Anak-anak yang menghayal secara berlebihan.
c. Anak yang prestasinya rendah.
d. Anak yang sedikit mengalami gangguan bicara.
e. Anak yang malas.
f. Anak yang nampak bodoh.
BEBERAPA CARA YANG BISA DILAKUKAN UNTUK MENDETEKSI KETUNARUNGUAN ANTARA LAIN :
a. Tes dengan alat sederhana ( tradisional )
Pada bayi yang mulai meraban dapat dilakukan tes, karena pendengarran
anak sudah mulai memegang peran. Dengan mengetukkan sendok pada
piring atau dengan panggilan dari sisi belakang atau samping anak.
Perhatikan respon yang diberikan anak.
b. Tes dengan uang logam ( coin clik test )
yaitu dengan cara mengetukkan uang logam, dan lihat respon anak terhadap suara tersebut.
- Tes denggan detik jam. ( watch tick test )
Pelaksanaan tes diberikan di rung yang sunyi, anak berdiri
disamping tester dengan menutup telinga yang tidak di tes, jam di
tempatkan dekat dengan telinga dan sedikit deemi sedikit dijauhkan
secara horizontal sampai anak tidak dapat mendengar. Menurut praktek,
jika anak tidak dapat mendengar detik jam pada jarak 48 inci sampai 16
inci maka ia dianggap kurang dengar.
Pada dasarnya intelegensi dan kemampuan bahasa anak tunarungu sama
dengan anak normal. Pada saat bayi, perkembangan bahasa dan bicara anak
tunarungu tidak mengalami hambatan, namun pada saat perkembangan meraban
anak mencoba menirukan suara yang ada disekitarnya tetapi anak tidak
dapat mendengar apa yang telah diucapkannya, dan tidak dapat mendengar
respon dari orang yang disekitarnya. Karena keadaan itulah maka anak
tunarungu merasa usaha yang dilakukannya sia-sia, sehingga berdampak
pada kemalasan anak untuk belajar berbicara. Apabila hal tersebut
dibiarkan atau tidak segera mendapat respon aktif dari orang tua atau
orang yang ada disekitarnya, maka yang terjadi anak tidak dapat
berbicara atau mengalami kesulitan berbicara hingga pada usia dewasa.
Kita sebagai orang tua atau guru harus berperan aktif melatih berbicara
anak secara terus menerus, tentunya bertahap mulai dari kata yang
sederhana misalnya kata yang disukai anak hinggaa kata-kata yang belum
pernah diketahui anak. Pada prinsipnya peran orangg tua dan orang-orang
yang ada disekitar anak tunarungu sangat membantu kelancaran berbicara
anak tuna tersebut.
Adapun beberapa metode terapi wicara antara lain :
- Metode lips reading / membaca ujaran
Penekanannya pada
kemampuan anak yang diharuskan dapat menangkap bunyi atau suara atau
ungkapan seseorang melalui penglihatannya, dengan kata lain anak harus
dapat membaca gerak bibir.
- Metode oral
Cara untuk melatih
anak tunarungu dapat berkomunikasi secara lisan (verbal) dengan
lingkungan orang mendengar. Yaitu dengan cara melibatkan anak tuunarungu
wicara, berbicara secara lisan dalam settiap keesempatan.
- Metode Manual
Cara mengajaar atau melatih anak tunarungu berkomunikasi dengan menggunakan isyarat atau ejaan jari.
- Meetode AVT ( Auditori, visual Therapy )
Perpaduan antara
penerapan suara, mimik muka, dan bahasa bibir. Tujuannya yaitu dengan
suara kita dapt mengoptimalkan sisa pendengaran anak, dengan mimik muka
dan bahasa bibir diharapkan anak lebih mengerti atau lebih mudah
memahami setiap kata yang diucapkan secara visual.
Hal yang harus diperhatikan dalam speach therpy/ terapi wicara antara lain :
- Alat artikulasi anak . ( terdapat / kecacatan atau tidak )
- Pembentukan vokal dan konsonan.
- Tingkat kurang dengar anak ( ringan, sedang, berat atau sangat berat ).
- Tingkat kelainan anak.
Dari
beberapa hal diatas perlu mendapat perhatian khusus, karena hal
tersebut sangat berpengaruh pada penanganan awal atau apa saja konsep
awal yang akan diberikan kepada anak.
Saat
ini, tentunya sudah banyak berbagai macam modifikasi terapi yang lebih
modern dan lebih detail, namun pada dasarnya semua itu tergantung dari
bagaimana cara penangan yang dilakukan terhadap anak. Hendaknya sedini
mungkin anak tunarungu wicara dilatih untuk berbicara dan melakukan
percakapan-percakan dengan orang normal, agar mereka merasa terbiasa dan
organ artikulasinya terlatih sejak dini.
Beberapa cara atau usaha dalam mengembangkan bahasa anak tunarungu menurut edja sajah & dardjo sukarja antara lain :
a. Perkembangan fungsi gerakan untuk kesiapan berbicara. Meliputi :
- Latihan nafas
- Latihan alat berbicara
Tujuannya adalah : - mengajak anak menyadari adanya gerakan motorik bicara.
- Kesiapan dalam membentuk bunyi bahasa melalui alat-alat bicara.
- membiaskan bahasa yang benar untuk memmprouksi bunyi bahasa.
- persepsi pendengaran, penglihatan, perabaan dan rasa.
b. Pengembangan fungsi pengertian.
- Latihan bahasa pasif
- Latihan perintah
Tujuannya adalah : - Mengembangkan pengertian melalui bahasa verbal.
- Memahami situasi yang dialami
- Melaksanakan perintah verbal
c. Keemampuan berbahasa verbal.
- Latihan pendengaran
- Latihan bahasa
- Latihan berbicara
Tujuannya adalah : - Menanamkan pengertian
- Menstimulasikan anak kearah peniruan secara sistimatis
- Menggunakan bicara dan bahasa
- Mengembangkan dan memfungsikan sisa pendengaran yang dimiliki
- Vokalisasi dan ekspresi
d. Gerakan fungsi motorik, meliputi :
- Peniruan gerak
- konsep gerakan yang benar
- koordinasi gerakan dengan penglihatan.
Tujuannya adalah : - Mengajak anak untuk berinteraksi dengan lingkungan.
- Mengembangkan fungsi motorik yng berhubungan dengan pengertian- pengertian.
- Melaksanakan gerakan-gaerakan secara aktif.
Usaha-usaha diatas dapat dilakukan dan dikembangkan oleh orang tua,
dalam hal ini peranan guru sangat diharapkan untuk memberikan saran.
Kegiatan-kegiatan dan rangsangan tersebut hendaknya dapat menunjang
perkembangan anak, terutama kompetensi berbahasa anak. Pendidikan
informal ini dapat dilaksanakan sedini mungkin agar anak lebih terbiasa
berkomunikasi dan dapat berinteraksi secara normal dan tanpa ada rasa
minder didalam lingkungan masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar