Minggu, 24 April 2016

Pentingnya penerapan terapi wicara bagi anak tuna rungu


DEFINISI
Istilah tunarungu mungkin tidak asing lagi ditelinga kita, bahkan sebagian besar masyarakat sudah mengenal dengan berbagai macam istilah lain, misalnya: Tuli, bisu, cacat dengar atau kurang dengar. Menurut bahasa istilah tuna rungu berasal dari kata “tuna” yaang berarti kurang, dan “rungu“ yang berarti pendenggaran. Orang atau anak dikatakan tuna rungu apabila ia tidak mampu mendengar suara. Dari batasan beberapa ahli, disimpulkan pengertian tunarungu adalah seseorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan karena tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran, sehingga ia tidak dapat menggnakan alat pendengarannya dalam kehidupan sehari-hari yang membawa dampak terhadap kehidupannya secara kompleks.
KLASIFIKASI
Pada umumnya anak tunarungu digolongkan atau diklasifikasikan menjadi “dua” kelompok besar, yaitu: tuli dan kurang dengar.
  • Orang dikatakan TULI apabila seseorang tersebut mengalami kehilangan kemampuan mendengar, sehingga menghambat proses informasi bahasa melalui pendengaran, baik memakai ataupun tidak memakai alat bantu dengar.
  • Orang kurang dengar adalah seseoraang yang mengalami kehilangan sebagian kemampuan mendengar, tetapi ia masih mempunyaai sisa-sisa pendengaran dan memungkinkan memakai alat bantu mendengar sebagai sarana untuk membantu proses keberhasilan informasi bahasa melalui pendengaran.
Klasifikasi tuna rungu menurut Samuel A.kirk.
  • 0 dB ( decible )
Menunjukkan pendengaran yang optimal.
  • 0 – 26 dB
Menuunjukkan pendeengaran yang normal.
  • 27 – 40 ( tuna rungu ringan )
Mempunyai kesulitan mendengar bunyi-bunyi yang jauh, membutuhkan tempat duduk yang tempatnya strategis dan mmembutuhkan terapi wicara.
  • 41 – 55 ( tuna rungu sedang )
Mengerti bahasa percakapan, tidak dapat mengikuti diskusi kelas, membutuhkan alat bantu dengar dan terapi wicara.
  • 56 – 70 ( tuna rungu agak berat )
Hanya bisa mendengar suara dari jarak yang dekat, mempunyai sisa pendengaran untuk belajar bahasa dan berbicara dengan alat bantu mendngar dan denggan cara khusus.
  • 71 – 90 ( tuna rungu berat )
Hanya bisa mendengar bunyi yang sangat dekat, kadang-kadang dianggap tuli, membutuhkan yang intensif, membutuhkan alat bantu mendengar dan latihan berbicara secara khusus.
  • > 90 ( tuna rungu sangat berat / berat sekali )
Mungkin sadar akan adanya bunyi atau suara dan getaran, banyak bergantung pada penglihatan dari pada pendengaran untuk proses menerima informasi dan yang bersangkutan dianggap tuli.

DETEKSI KETUNARUNGUAN
Mendeteksi kehilangan pendengaran merupakan persoalan tekhnis, dimana mengenali anak tuli lebih mudah di banding mengenali atau menemukan anak yang kurang dengar.
  • Gejala umum anak kurang dengar ringan antara lain :
a. Anak yang acuh tak acuh, kebingungan atau penurut.
b. Anak-anak yang menghayal secara berlebihan.
c. Anak yang prestasinya rendah.
d. Anak yang sedikit mengalami gangguan bicara.
e. Anak yang malas.
f. Anak yang nampak bodoh.

BEBERAPA CARA YANG BISA DILAKUKAN UNTUK MENDETEKSI KETUNARUNGUAN ANTARA LAIN :
a. Tes dengan alat sederhana ( tradisional )
Pada bayi yang mulai meraban dapat dilakukan tes, karena pendengarran anak sudah mulai memegang peran. Dengan mengetukkan sendok pada piring atau dengan panggilan dari sisi belakang atau samping anak. Perhatikan respon yang diberikan anak.
b. Tes dengan uang logam ( coin clik test )
yaitu dengan cara mengetukkan uang logam, dan lihat respon anak terhadap suara tersebut.
    1. Tes denggan detik jam. ( watch tick test )
Pelaksanaan tes diberikan di rung yang sunyi, anak berdiri disamping tester dengan menutup telinga yang tidak di tes, jam di tempatkan dekat dengan telinga dan sedikit deemi sedikit dijauhkan secara horizontal sampai anak tidak dapat mendengar. Menurut praktek, jika anak tidak dapat mendengar detik jam pada jarak 48 inci sampai 16 inci maka ia dianggap kurang dengar.

Pada dasarnya intelegensi dan kemampuan bahasa anak tunarungu sama dengan anak normal. Pada saat bayi, perkembangan bahasa dan bicara anak tunarungu tidak mengalami hambatan, namun pada saat perkembangan meraban anak mencoba menirukan suara yang ada disekitarnya tetapi anak tidak dapat mendengar apa yang telah diucapkannya, dan tidak dapat mendengar respon dari orang yang disekitarnya. Karena keadaan itulah maka anak tunarungu merasa usaha yang dilakukannya sia-sia, sehingga berdampak pada kemalasan anak untuk belajar berbicara. Apabila hal tersebut dibiarkan atau tidak segera mendapat respon aktif dari orang tua atau orang yang ada disekitarnya, maka yang terjadi anak tidak dapat berbicara atau mengalami kesulitan berbicara hingga pada usia dewasa.
Kita sebagai orang tua atau guru harus berperan aktif melatih berbicara anak secara terus menerus, tentunya bertahap mulai dari kata yang sederhana misalnya kata yang disukai anak hinggaa kata-kata yang belum pernah diketahui anak. Pada prinsipnya peran orangg tua dan orang-orang yang ada disekitar anak tunarungu sangat membantu kelancaran berbicara anak tuna tersebut.

Adapun beberapa metode terapi wicara antara lain :
  • Metode lips reading / membaca ujaran
Penekanannya pada kemampuan anak yang diharuskan dapat menangkap bunyi atau suara atau ungkapan seseorang melalui penglihatannya, dengan kata lain anak harus dapat membaca gerak bibir.
  • Metode oral
Cara untuk melatih anak tunarungu dapat berkomunikasi secara lisan (verbal) dengan lingkungan orang mendengar. Yaitu dengan cara melibatkan anak tuunarungu wicara, berbicara secara lisan dalam settiap keesempatan.
  • Metode Manual
Cara mengajaar atau melatih anak tunarungu berkomunikasi dengan menggunakan isyarat atau ejaan jari.
  • Meetode AVT ( Auditori, visual Therapy )
Perpaduan antara penerapan suara, mimik muka, dan bahasa bibir. Tujuannya yaitu dengan suara kita dapt mengoptimalkan sisa pendengaran anak, dengan mimik muka dan bahasa bibir diharapkan anak lebih mengerti atau lebih mudah memahami setiap kata yang diucapkan secara visual.


Hal yang harus diperhatikan dalam speach therpy/ terapi wicara antara lain :
    1. Alat artikulasi anak . ( terdapat / kecacatan atau tidak )
    2. Pembentukan vokal dan konsonan.
    3. Tingkat kurang dengar anak ( ringan, sedang, berat atau sangat berat ).
    4. Tingkat kelainan anak.
Dari beberapa hal diatas perlu mendapat perhatian khusus, karena hal tersebut sangat berpengaruh pada penanganan awal atau apa saja konsep awal yang akan diberikan kepada anak.

Saat ini, tentunya sudah banyak berbagai macam modifikasi terapi yang lebih modern dan lebih detail, namun pada dasarnya semua itu tergantung dari bagaimana cara penangan yang dilakukan terhadap anak. Hendaknya sedini mungkin anak tunarungu wicara dilatih untuk berbicara dan melakukan percakapan-percakan dengan orang normal, agar mereka merasa terbiasa dan organ artikulasinya terlatih sejak dini.

Beberapa cara atau usaha dalam mengembangkan bahasa anak tunarungu menurut edja sajah & dardjo sukarja antara lain :
a. Perkembangan fungsi gerakan untuk kesiapan berbicara. Meliputi :
    • Latihan nafas
    • Latihan alat berbicara
Tujuannya adalah : - mengajak anak menyadari adanya gerakan motorik bicara.
- Kesiapan dalam membentuk bunyi bahasa melalui alat-alat bicara.
- membiaskan bahasa yang benar untuk memmprouksi bunyi bahasa.
- persepsi pendengaran, penglihatan, perabaan dan rasa.
b. Pengembangan fungsi pengertian.
    • Latihan bahasa pasif
    • Latihan perintah
Tujuannya adalah : - Mengembangkan pengertian melalui bahasa verbal.
- Memahami situasi yang dialami
- Melaksanakan perintah verbal
c. Keemampuan berbahasa verbal.
    • Latihan pendengaran
    • Latihan bahasa
    • Latihan berbicara
Tujuannya adalah : - Menanamkan pengertian
- Menstimulasikan anak kearah peniruan secara sistimatis
- Menggunakan bicara dan bahasa
- Mengembangkan dan memfungsikan sisa pendengaran yang dimiliki
- Vokalisasi dan ekspresi
d. Gerakan fungsi motorik, meliputi :
    • Peniruan gerak
    • konsep gerakan yang benar
    • koordinasi gerakan dengan penglihatan.
Tujuannya adalah : - Mengajak anak untuk berinteraksi dengan lingkungan.
- Mengembangkan fungsi motorik yng berhubungan dengan pengertian- pengertian.
- Melaksanakan gerakan-gaerakan secara aktif.

Usaha-usaha diatas dapat dilakukan dan dikembangkan oleh orang tua, dalam hal ini peranan guru sangat diharapkan untuk memberikan saran. Kegiatan-kegiatan dan rangsangan tersebut hendaknya dapat menunjang perkembangan anak, terutama kompetensi berbahasa anak. Pendidikan informal ini dapat dilaksanakan sedini mungkin agar anak lebih terbiasa berkomunikasi dan dapat berinteraksi secara normal dan tanpa ada rasa minder didalam lingkungan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar