Pengertian Down Syndrome
Down syndrome pertama kali
diperkenalkan oleh dokter berkebangsaan Inggris, Dr. John Longdon Down
pada tahun 1866. Penelitian ini dilakukan terhadap sekumpulan orang yang
memiliki kesamaan struktur wajah. Sembilan puluh tiga tahun kemudian
tepatnya pada tahun 1959, Dr. Jerome Lejeune membuktikan penyebab dari
sindrom tersebut. Sekarang down syndrome dikenal sebagai gangguan genetik yang disebabkan oleh perkembangan abnormal pada kromosom.
Saat dilahirkan, bayi normal memiliki 46
kromosom yang terdiri dari 22 pasang autosom dan 1 pasang kromosom seks
yang akan menentukan jenis kelamin. Namun, pada bayi penderita down
syndrome ditemukan kelainan kromosom pada berkas 21. Terdapat tiga
kondisi kelainan kromosom 21 yang menyebabkan terjadinya down syndrome yaitu non-disjunction, translocation dan mosaic.
Sebagian besar kelainan kromosom pada penderita down syndrome disebabkan oleh kondisi non-disjunction.
Pada kategori ini penderita memiliki tiga kromosom pada berkas 21 yang
idealnya hanya terdapat sepasang kromosom. Hal ini disebabkan tidak
sempurnanya pembelahan sel secara mitosis. Tipe ini biasa disebut dengan
trisomy 21. Pada ibu dengan usia lebih dari 40 tahun, ditemukan resiko lebih besar terjadinya kelainan kromosom tipe ini.
Translocation merupakan
kelainan kromosom yang terjadi karena adanya pencampuran kromosom berkas
21 pada kromosom berkas lain (biasanya terjadi pada berkas 14).
Penderita down syndrome dengan kelainan kromosom yang disebabkan oleh translocation memiliki jumlah kromosom seperti bayi normal yaitu 46 kromosom. Kondisi ini biasa terjadi pada ibu dengan usia muda.
Terakhir adalah tipe mosaic, tipe ini memiliki kromosom trisomy sama dengan tipe non-disjunction. Secara klinis, tipe ini dianggap lebih ringan karena terdapat sel normal dan sel abnormal yang hidup berdampingan.
Penyebab dan ciri penderita down syndrome.
Menurut Psikolog Anak Firesta Farizal, M.Psi.,Psikolog.,berdasarkan literatur, ada sejumlah faktor yang diduga dapat memperbesar resiko kemungkinan munculnya gangguan down syndrome,
salah satunya adalah ibu dengan usia lebih dari 40 tahun.“Semakin tua
usia ibu, semakin besar perbandingan resiko ia dapat melahirkan anak
dengan gangguan down syndrome.”, jelas Psikolog Anak yang akrab disapa Ibu Etha ini.
Bila dilihat secara fisik, si kecil dengan gangguan down syndrome
memiliki ciri fisik yang cenderung mirip. Postur tubuh mereka cenderung
lebih pendek dari anak seusianya dengan kepala relatif kecil. Bentuk
mata sipit seperti almond dan memiliki lipatan pada bagian luar dengan
jarak antar mata cukup jauh. Penderita memiliki mulut kecil dengan lidah
yang tebal atau lebar, sehingga lidah menjulur keluar. Kadang hanya
ditemukan garis tunggal yang memotong secara horizontal telapak
tangannya (simian crease). Mereka juga memiliki otot-otot yang lemah sehingga cenderung terlihat lemas dan terkulai.
Sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah
dari anak normal, membuat si kecil rentan terhadap penyakit. Tidak hanya
itu, ditemukan juga komplikasi penyakit pada si kecil. Komplikasi yang
ditemukan pada setiap individu berbeda dan bervariasi. komplikasi ini
terjadi karena perkembangan organ yang tidak sempurna. Ada yang memiliki
sistem pendengaran yang kurang baik, atau gangguan pencernaan. Ada juga
yang memiliki penyakit jantung bawaan, leukemia atau infeksi paru-paru.
Pada indera penglihatan sering ditemui miopi atau presbiopi dan katarak
pada usia dewasa.
“Si kecil dengan gangguan down syndrome juga mengalami keterlambatan pertumbuhan mental. Umumnya penderita memiliki kisaran IQ area mental retardasi mild (ringan) and moderate
(sedang), yaitu dibawah 50. Dengan kisaran IQ anak normal sekitar
90-110.”, sambung bu Etha dalam wawancara di sela-sela kesibukanya.
Deteksi dan Intervensi sejak dini.
Gangguan down syndrome dapat
dideteksi sejak dalam kandungan. Salah satu cara dengan memonitor
perkembangan janin melalui usg. Dari hasil usg dapat dilihat ciri fisik
bayi dan pertumbuhan organnya. Kemudian dilanjutkan dengan tes kromosom
untuk memastikan apakah bayi tersebut memiliki kelainan kromosom.
Dengan dideteksi sejak masa kandungan, si kecil dengan gangguan down syndrome
akan mendapatkan penanganan sejak dini. Intervensi sejak dini bertujuan
untuk membantu tumbuh kembangnya.Si kecil yang diberikan rangsangan dan
stimulus secara konsisten,perkembangan otaknya akan meningkat sehingga
perkembangannya akan lebih optimal dibandingkan dengan anak yang tidak
mendapatkan intervensi dini. Orang tua dapat berkonsultasi dengan Dokter
Anak atau Psikolog Anak untuk menentukan intervensi yang diperlukan.
Idealnya si kecil akan membutuhkan
terapi atau latihan untuk menstimulus tumbuh kembangnya. Terapi atau
latihan dilakukan secara bertahap tanpa terikat batas waktu.Setiap
individu memiliki grafik perkembangannya sendiri. Jika si kecil telah
menguasai satu keterampilan maka target akan meningkat ke keterampilan
yang lebih sulit. Terdapat beberapa tingkat keterampilan yang perlu di
kuasai si kecil agar iadapat hidup secara mandiri.
Tahap pertama si kecil membutuhkan
fisioterapi untuk menguatkan otot-ototnya sehingga ia dapat
mengembangkan kemampuan motorik kasar seperti tengkurap, merangkak dan
berdiri. Selanjutnya, si kecil membutuhkan terapi wicara agar dapat
menguasai komunikasi bicara. Tahap ketiga, terapi okupasi untuk membantu
si kecil menguasai keterampilan motorik halus, seperti mengancingkan
baju dan menulis. Jika si kecil telah mengenyam pendidikan, maka iaakan
membutuhkan terapi edukasi untuk membantunya dalam hal akademis.
Dibalik kekurangan penderita down syndrome
terdapat kelebihan yang terpancar. Semangat juang si kecil untuk tumbuh
dan berkembang perlu diacungi jempol. Walau harus berjuang sejak
dilahirkan tapi senyum si kecil tak lepas dari wajahnya. Penderita
gangguan down syndrome ada bukan untuk dihindari tapi mereka ada untuk dikasihi. Selamat hari down syndrome sedunia.
Agar dapat lebih
mengerti kelainan ini ada baiknya kita mengingat kembali jumlah kromosom
normal pada manusia. Setiap individu normal memiliki sebanyak 23 pasang
kromosom dengan jumlah total 46 kromosom. Jumlah 46 kromosom yang
dimiliki seseorang ini berasal ayah dan ibunya yang masing masing
berkontribusi sebanyak 23 kromosom. Apabila dalam keadaan tertentu
seseorang jumlah kromosom yang dimilikinya kurang ataupun melebihi dari
jumlah kromosom normal ini, maka akan muncul abnormalitas.
Salah satu kelainan jumlah kromosom yang ingin saya bahas kali ini
adalah Down Syndrome. Menurut WHO di seluruh dunia diperkirakan kejadian
Down Syndrome ini 1 dari setiap 1000 kelahiran. Walaupun sampai saat
ini penyebab pasti Down Syndrome masih belum ditemukan, namun data di
lapangan menunjukkan bahwa dengan semakin berumurnya seorang ibu, maka
peluang untuk mendapatkan anak Down Syndrome ini akan semakin meningkat.
Apa itu Down Syndrome?
Sebagian besar Down Syndrome menyangkut kelainan kromosom dimana
kromosom nomor 21 jumlahnya tidak sepasang sebagaimana yang terjadi pada
individu normal namun jumlahnya tiga buah (dalam ilmu genetika disebut
dengan trisomy). Trisomy kromosom 21 ini umumnya ditemukan di setiap sel
penderita Down Syndrome.
Trisomy pada kromosom 21 penderita Down Syndrome. | Sumber:
1.bp.blogspot.com
Sebagian besar kejadian trisomy kromosom 21 ini disebabkan oleh proses
yang dinamakan nondisjunction dimana pada saat pembentukan gamet
(pemisahan pasangan kromosom), kromosom yang mengandung materi genetik
gagal ini berpisah secara sempurna sehingga mengakibatkan terjadinya
kelebihan kromosom.
Nondisjunction merupakan salah satu penyebab terjadinya Trisomy. |
Sumber: nickm99.files.wordpress.com
Kejadian Down Syndrome lainnya yang jarang terjadi adalah akibat proses
yang dinamakan translokasi kromosom, dimana bagian kromosom 21 menempel
pada kromosom 21 lainnya pada saat pada saat produksi sel sperma atau
sel telur orang tuanya. Kejadian translokasi ini dapat juga terjadi pada
tahap awal pembentukan fetus. Kejadian Down Syndrome seperti ini
dikenal sebagai translocation Down syndrome.
Gagalnya pemisahan kromosom pada saat pembentukan gamet pada sel telur
yang mengakibatkan kejadian trisomy pada anak. | Sumber:
www.meddean.luc.edu
Disamping kedua proses di atas walaupun prosentasenya sangat kecil
seorang penderita Down Syndrome hanya memiliki trisomy kromosom 21 di
beberapa bagian tubuhnya saja. Kondisi Down Syndrome seperti ini disebut
dengan mosaic Down syndrome.
Para meneliti menyakini bahwa kelebihan kromosom 21 inilah yang
mengganggu perkembangan fetus ke tahapan berikutnya yang menimbulkan
kondisi kelainan genetik yang dinamakan Down Syndrome yang berpengaruh
pada kesehatan.
Apa dampaknya?
Down Syndrome sangat kental dicirikan dengan bentuk wajah yang khas
dan kelemahan perototan (hypotonia) pada bayi. Di samping itu kondisi
ini juga terkait dengan keterlambatan kemampuan kognitif. Namun demikian
biasanya gangguan kemampuan intelektualnya dalam skala sedang.
Hu YiZhaou penderita Down Syndrome yang menjadi konduktor simponi
orkestra ternama. | Photo: www.everlasting.lk
Sekitar 50% dari anak yang terlahir dengan Down Syndrome mengalami
kelainan jantung. Dalam kasus tertentu penderita Down Syndrome juga
mengalami kelainan pencernaan berupa pemblokiran usus.
Pada umumnya penderita Down syndrome juga mengalami resiko kesehatan
lainnya seperti gastroesophageal reflux dimana terjadi arus balik asam
lambung ke esophagus. Disamping itu penderita juga mengalami kondisi
yang disebut dengan celiac disease dimana terjadi ketidak toleran
terhadap protein gandum yang disebut dengan glutten.
Sebanyak 15% dari penderita Down Syndrome mengalami hypothyroidism yang
merupakan kondisi dimana kinerja kelenjar thyroid berada di bawah level
normal.
Ciri umum bayi yang mengalami Down Syndrome. | Sumber:
www.womens-health-advice.com
Penderita Down Syndrome biasanya juga memiliki resiko tinggi gangguan
pendengaran dan penglihatan. Walaupun persentasenya sangat kecil,
penderita Down Syndrome juga mengalami kanker sel darah (leukimia).
Dalam perkembangannya anak yang mengalami Down Syndrome ini seringkali
memiliki masalah pertumbuhan yang terlambat dan juga masalah tingkah
laku yang obsesif.
Kemampuan berbicara anak yang mengalami Down Syndrome ini bisanya juga
lebih lambat jika dibandingkan dengan anak normal. Dalam persentase yang
kecil, penderita Down Syndrome dapat menunjukkan gejala autism yang
mempengaruhi komunikasi dan interaksi sosial.
Penderita Down Syndrome biasanya secara bertahap akan mengalami
penurunan kemampuan berpikir ketika usianya mencapai 50 tahun. Down
Syndrome sering kali juga dihubungkan sebagai salah satu penyebab pemicu
penyakit Alzheimer yaitu suatu kondisi dimana individu secara perlahan
kehilangan ingatan.
Apakah Down Syndrome diturunkan?
Sebagian besar kasus Down Syndrome tidak diturunkan ke generasi
berikutnya karena kejadian trisomy kromosom 21 ini sebagian besar
terjadi secara acak saat terjadi pembentukan sel reproduksi orang
tuanya.
Data empiris menunjukkan bahwa kelainan trisomy kromosom 21 ini lebih
umum terjadi pada telur jika dibandingkan dengan sperma.
Mengingat kejadian trisomy kromosom 21 ini terjadi secara acak, maka
cara terbaik bagi orang tua yang diberikan amanah memiliki anak down
syndrome adalah memelihara, menyayangi dan mendidiknya dengan sepenuh
hati, karena manusia tidak selalu dapat mengerti apa yang telah
ditetapkan oleh Allah SWT.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rrnoor/mengenal-lebih-dekat-down-syndrome_56f3980c85afbd4207ca3c21
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rrnoor/mengenal-lebih-dekat-down-syndrome_56f3980c85afbd4207ca3c21
Agar dapat lebih
mengerti kelainan ini ada baiknya kita mengingat kembali jumlah kromosom
normal pada manusia. Setiap individu normal memiliki sebanyak 23 pasang
kromosom dengan jumlah total 46 kromosom. Jumlah 46 kromosom yang
dimiliki seseorang ini berasal ayah dan ibunya yang masing masing
berkontribusi sebanyak 23 kromosom. Apabila dalam keadaan tertentu
seseorang jumlah kromosom yang dimilikinya kurang ataupun melebihi dari
jumlah kromosom normal ini, maka akan muncul abnormalitas.
Salah satu kelainan jumlah kromosom yang ingin saya bahas kali ini
adalah Down Syndrome. Menurut WHO di seluruh dunia diperkirakan kejadian
Down Syndrome ini 1 dari setiap 1000 kelahiran. Walaupun sampai saat
ini penyebab pasti Down Syndrome masih belum ditemukan, namun data di
lapangan menunjukkan bahwa dengan semakin berumurnya seorang ibu, maka
peluang untuk mendapatkan anak Down Syndrome ini akan semakin meningkat.
Apa itu Down Syndrome?
Sebagian besar Down Syndrome menyangkut kelainan kromosom dimana
kromosom nomor 21 jumlahnya tidak sepasang sebagaimana yang terjadi pada
individu normal namun jumlahnya tiga buah (dalam ilmu genetika disebut
dengan trisomy). Trisomy kromosom 21 ini umumnya ditemukan di setiap sel
penderita Down Syndrome.
Trisomy pada kromosom 21 penderita Down Syndrome. | Sumber:
1.bp.blogspot.com
Sebagian besar kejadian trisomy kromosom 21 ini disebabkan oleh proses
yang dinamakan nondisjunction dimana pada saat pembentukan gamet
(pemisahan pasangan kromosom), kromosom yang mengandung materi genetik
gagal ini berpisah secara sempurna sehingga mengakibatkan terjadinya
kelebihan kromosom.
Nondisjunction merupakan salah satu penyebab terjadinya Trisomy. |
Sumber: nickm99.files.wordpress.com
Kejadian Down Syndrome lainnya yang jarang terjadi adalah akibat proses
yang dinamakan translokasi kromosom, dimana bagian kromosom 21 menempel
pada kromosom 21 lainnya pada saat pada saat produksi sel sperma atau
sel telur orang tuanya. Kejadian translokasi ini dapat juga terjadi pada
tahap awal pembentukan fetus. Kejadian Down Syndrome seperti ini
dikenal sebagai translocation Down syndrome.
Gagalnya pemisahan kromosom pada saat pembentukan gamet pada sel telur
yang mengakibatkan kejadian trisomy pada anak. | Sumber:
www.meddean.luc.edu
Disamping kedua proses di atas walaupun prosentasenya sangat kecil
seorang penderita Down Syndrome hanya memiliki trisomy kromosom 21 di
beberapa bagian tubuhnya saja. Kondisi Down Syndrome seperti ini disebut
dengan mosaic Down syndrome.
Para meneliti menyakini bahwa kelebihan kromosom 21 inilah yang
mengganggu perkembangan fetus ke tahapan berikutnya yang menimbulkan
kondisi kelainan genetik yang dinamakan Down Syndrome yang berpengaruh
pada kesehatan.
Apa dampaknya?
Down Syndrome sangat kental dicirikan dengan bentuk wajah yang khas
dan kelemahan perototan (hypotonia) pada bayi. Di samping itu kondisi
ini juga terkait dengan keterlambatan kemampuan kognitif. Namun demikian
biasanya gangguan kemampuan intelektualnya dalam skala sedang.
Hu YiZhaou penderita Down Syndrome yang menjadi konduktor simponi
orkestra ternama. | Photo: www.everlasting.lk
Sekitar 50% dari anak yang terlahir dengan Down Syndrome mengalami
kelainan jantung. Dalam kasus tertentu penderita Down Syndrome juga
mengalami kelainan pencernaan berupa pemblokiran usus.
Pada umumnya penderita Down syndrome juga mengalami resiko kesehatan
lainnya seperti gastroesophageal reflux dimana terjadi arus balik asam
lambung ke esophagus. Disamping itu penderita juga mengalami kondisi
yang disebut dengan celiac disease dimana terjadi ketidak toleran
terhadap protein gandum yang disebut dengan glutten.
Sebanyak 15% dari penderita Down Syndrome mengalami hypothyroidism yang
merupakan kondisi dimana kinerja kelenjar thyroid berada di bawah level
normal.
Ciri umum bayi yang mengalami Down Syndrome. | Sumber:
www.womens-health-advice.com
Penderita Down Syndrome biasanya juga memiliki resiko tinggi gangguan
pendengaran dan penglihatan. Walaupun persentasenya sangat kecil,
penderita Down Syndrome juga mengalami kanker sel darah (leukimia).
Dalam perkembangannya anak yang mengalami Down Syndrome ini seringkali
memiliki masalah pertumbuhan yang terlambat dan juga masalah tingkah
laku yang obsesif.
Kemampuan berbicara anak yang mengalami Down Syndrome ini bisanya juga
lebih lambat jika dibandingkan dengan anak normal. Dalam persentase yang
kecil, penderita Down Syndrome dapat menunjukkan gejala autism yang
mempengaruhi komunikasi dan interaksi sosial.
Penderita Down Syndrome biasanya secara bertahap akan mengalami
penurunan kemampuan berpikir ketika usianya mencapai 50 tahun. Down
Syndrome sering kali juga dihubungkan sebagai salah satu penyebab pemicu
penyakit Alzheimer yaitu suatu kondisi dimana individu secara perlahan
kehilangan ingatan.
Apakah Down Syndrome diturunkan?
Sebagian besar kasus Down Syndrome tidak diturunkan ke generasi
berikutnya karena kejadian trisomy kromosom 21 ini sebagian besar
terjadi secara acak saat terjadi pembentukan sel reproduksi orang
tuanya.
Data empiris menunjukkan bahwa kelainan trisomy kromosom 21 ini lebih
umum terjadi pada telur jika dibandingkan dengan sperma.
Mengingat kejadian trisomy kromosom 21 ini terjadi secara acak, maka
cara terbaik bagi orang tua yang diberikan amanah memiliki anak down
syndrome adalah memelihara, menyayangi dan mendidiknya dengan sepenuh
hati, karena manusia tidak selalu dapat mengerti apa yang telah
ditetapkan oleh Allah SWT.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rrnoor/mengenal-lebih-dekat-down-syndrome_56f3980c85afbd4207ca3c21
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rrnoor/mengenal-lebih-dekat-down-syndrome_56f3980c85afbd4207ca3c21
Agar dapat lebih
mengerti kelainan ini ada baiknya kita mengingat kembali jumlah kromosom
normal pada manusia. Setiap individu normal memiliki sebanyak 23 pasang
kromosom dengan jumlah total 46 kromosom. Jumlah 46 kromosom yang
dimiliki seseorang ini berasal ayah dan ibunya yang masing masing
berkontribusi sebanyak 23 kromosom. Apabila dalam keadaan tertentu
seseorang jumlah kromosom yang dimilikinya kurang ataupun melebihi dari
jumlah kromosom normal ini, maka akan muncul abnormalitas.
Salah satu kelainan jumlah kromosom yang ingin saya bahas kali ini
adalah Down Syndrome. Menurut WHO di seluruh dunia diperkirakan kejadian
Down Syndrome ini 1 dari setiap 1000 kelahiran. Walaupun sampai saat
ini penyebab pasti Down Syndrome masih belum ditemukan, namun data di
lapangan menunjukkan bahwa dengan semakin berumurnya seorang ibu, maka
peluang untuk mendapatkan anak Down Syndrome ini akan semakin meningkat.
Apa itu Down Syndrome?
Sebagian besar Down Syndrome menyangkut kelainan kromosom dimana
kromosom nomor 21 jumlahnya tidak sepasang sebagaimana yang terjadi pada
individu normal namun jumlahnya tiga buah (dalam ilmu genetika disebut
dengan trisomy). Trisomy kromosom 21 ini umumnya ditemukan di setiap sel
penderita Down Syndrome.
Trisomy pada kromosom 21 penderita Down Syndrome. | Sumber:
1.bp.blogspot.com
Sebagian besar kejadian trisomy kromosom 21 ini disebabkan oleh proses
yang dinamakan nondisjunction dimana pada saat pembentukan gamet
(pemisahan pasangan kromosom), kromosom yang mengandung materi genetik
gagal ini berpisah secara sempurna sehingga mengakibatkan terjadinya
kelebihan kromosom.
Nondisjunction merupakan salah satu penyebab terjadinya Trisomy. |
Sumber: nickm99.files.wordpress.com
Kejadian Down Syndrome lainnya yang jarang terjadi adalah akibat proses
yang dinamakan translokasi kromosom, dimana bagian kromosom 21 menempel
pada kromosom 21 lainnya pada saat pada saat produksi sel sperma atau
sel telur orang tuanya. Kejadian translokasi ini dapat juga terjadi pada
tahap awal pembentukan fetus. Kejadian Down Syndrome seperti ini
dikenal sebagai translocation Down syndrome.
Gagalnya pemisahan kromosom pada saat pembentukan gamet pada sel telur
yang mengakibatkan kejadian trisomy pada anak. | Sumber:
www.meddean.luc.edu
Disamping kedua proses di atas walaupun prosentasenya sangat kecil
seorang penderita Down Syndrome hanya memiliki trisomy kromosom 21 di
beberapa bagian tubuhnya saja. Kondisi Down Syndrome seperti ini disebut
dengan mosaic Down syndrome.
Para meneliti menyakini bahwa kelebihan kromosom 21 inilah yang
mengganggu perkembangan fetus ke tahapan berikutnya yang menimbulkan
kondisi kelainan genetik yang dinamakan Down Syndrome yang berpengaruh
pada kesehatan.
Apa dampaknya?
Down Syndrome sangat kental dicirikan dengan bentuk wajah yang khas
dan kelemahan perototan (hypotonia) pada bayi. Di samping itu kondisi
ini juga terkait dengan keterlambatan kemampuan kognitif. Namun demikian
biasanya gangguan kemampuan intelektualnya dalam skala sedang.
Hu YiZhaou penderita Down Syndrome yang menjadi konduktor simponi
orkestra ternama. | Photo: www.everlasting.lk
Sekitar 50% dari anak yang terlahir dengan Down Syndrome mengalami
kelainan jantung. Dalam kasus tertentu penderita Down Syndrome juga
mengalami kelainan pencernaan berupa pemblokiran usus.
Pada umumnya penderita Down syndrome juga mengalami resiko kesehatan
lainnya seperti gastroesophageal reflux dimana terjadi arus balik asam
lambung ke esophagus. Disamping itu penderita juga mengalami kondisi
yang disebut dengan celiac disease dimana terjadi ketidak toleran
terhadap protein gandum yang disebut dengan glutten.
Sebanyak 15% dari penderita Down Syndrome mengalami hypothyroidism yang
merupakan kondisi dimana kinerja kelenjar thyroid berada di bawah level
normal.
Ciri umum bayi yang mengalami Down Syndrome. | Sumber:
www.womens-health-advice.com
Penderita Down Syndrome biasanya juga memiliki resiko tinggi gangguan
pendengaran dan penglihatan. Walaupun persentasenya sangat kecil,
penderita Down Syndrome juga mengalami kanker sel darah (leukimia).
Dalam perkembangannya anak yang mengalami Down Syndrome ini seringkali
memiliki masalah pertumbuhan yang terlambat dan juga masalah tingkah
laku yang obsesif.
Kemampuan berbicara anak yang mengalami Down Syndrome ini bisanya juga
lebih lambat jika dibandingkan dengan anak normal. Dalam persentase yang
kecil, penderita Down Syndrome dapat menunjukkan gejala autism yang
mempengaruhi komunikasi dan interaksi sosial.
Penderita Down Syndrome biasanya secara bertahap akan mengalami
penurunan kemampuan berpikir ketika usianya mencapai 50 tahun. Down
Syndrome sering kali juga dihubungkan sebagai salah satu penyebab pemicu
penyakit Alzheimer yaitu suatu kondisi dimana individu secara perlahan
kehilangan ingatan.
Apakah Down Syndrome diturunkan?
Sebagian besar kasus Down Syndrome tidak diturunkan ke generasi
berikutnya karena kejadian trisomy kromosom 21 ini sebagian besar
terjadi secara acak saat terjadi pembentukan sel reproduksi orang
tuanya.
Data empiris menunjukkan bahwa kelainan trisomy kromosom 21 ini lebih
umum terjadi pada telur jika dibandingkan dengan sperma.
Mengingat kejadian trisomy kromosom 21 ini terjadi secara acak, maka
cara terbaik bagi orang tua yang diberikan amanah memiliki anak down
syndrome adalah memelihara, menyayangi dan mendidiknya dengan sepenuh
hati, karena manusia tidak selalu dapat mengerti apa yang telah
ditetapkan oleh Allah SWT.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rrnoor/mengenal-lebih-dekat-down-syndrome_56f3980c85afbd4207ca3c21
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rrnoor/mengenal-lebih-dekat-down-syndrome_56f3980c85afbd4207ca3c21
Agar dapat lebih
mengerti kelainan ini ada baiknya kita mengingat kembali jumlah kromosom
normal pada manusia. Setiap individu normal memiliki sebanyak 23 pasang
kromosom dengan jumlah total 46 kromosom. Jumlah 46 kromosom yang
dimiliki seseorang ini berasal ayah dan ibunya yang masing masing
berkontribusi sebanyak 23 kromosom. Apabila dalam keadaan tertentu
seseorang jumlah kromosom yang dimilikinya kurang ataupun melebihi dari
jumlah kromosom normal ini, maka akan muncul abnormalitas.
Salah satu kelainan jumlah kromosom yang ingin saya bahas kali ini
adalah Down Syndrome. Menurut WHO di seluruh dunia diperkirakan kejadian
Down Syndrome ini 1 dari setiap 1000 kelahiran. Walaupun sampai saat
ini penyebab pasti Down Syndrome masih belum ditemukan, namun data di
lapangan menunjukkan bahwa dengan semakin berumurnya seorang ibu, maka
peluang untuk mendapatkan anak Down Syndrome ini akan semakin meningkat.
Apa itu Down Syndrome?
Sebagian besar Down Syndrome menyangkut kelainan kromosom dimana
kromosom nomor 21 jumlahnya tidak sepasang sebagaimana yang terjadi pada
individu normal namun jumlahnya tiga buah (dalam ilmu genetika disebut
dengan trisomy). Trisomy kromosom 21 ini umumnya ditemukan di setiap sel
penderita Down Syndrome.
Trisomy pada kromosom 21 penderita Down Syndrome. | Sumber:
1.bp.blogspot.com
Sebagian besar kejadian trisomy kromosom 21 ini disebabkan oleh proses
yang dinamakan nondisjunction dimana pada saat pembentukan gamet
(pemisahan pasangan kromosom), kromosom yang mengandung materi genetik
gagal ini berpisah secara sempurna sehingga mengakibatkan terjadinya
kelebihan kromosom.
Nondisjunction merupakan salah satu penyebab terjadinya Trisomy. |
Sumber: nickm99.files.wordpress.com
Kejadian Down Syndrome lainnya yang jarang terjadi adalah akibat proses
yang dinamakan translokasi kromosom, dimana bagian kromosom 21 menempel
pada kromosom 21 lainnya pada saat pada saat produksi sel sperma atau
sel telur orang tuanya. Kejadian translokasi ini dapat juga terjadi pada
tahap awal pembentukan fetus. Kejadian Down Syndrome seperti ini
dikenal sebagai translocation Down syndrome.
Gagalnya pemisahan kromosom pada saat pembentukan gamet pada sel telur
yang mengakibatkan kejadian trisomy pada anak. | Sumber:
www.meddean.luc.edu
Disamping kedua proses di atas walaupun prosentasenya sangat kecil
seorang penderita Down Syndrome hanya memiliki trisomy kromosom 21 di
beberapa bagian tubuhnya saja. Kondisi Down Syndrome seperti ini disebut
dengan mosaic Down syndrome.
Para meneliti menyakini bahwa kelebihan kromosom 21 inilah yang
mengganggu perkembangan fetus ke tahapan berikutnya yang menimbulkan
kondisi kelainan genetik yang dinamakan Down Syndrome yang berpengaruh
pada kesehatan.
Apa dampaknya?
Down Syndrome sangat kental dicirikan dengan bentuk wajah yang khas
dan kelemahan perototan (hypotonia) pada bayi. Di samping itu kondisi
ini juga terkait dengan keterlambatan kemampuan kognitif. Namun demikian
biasanya gangguan kemampuan intelektualnya dalam skala sedang.
Hu YiZhaou penderita Down Syndrome yang menjadi konduktor simponi
orkestra ternama. | Photo: www.everlasting.lk
Sekitar 50% dari anak yang terlahir dengan Down Syndrome mengalami
kelainan jantung. Dalam kasus tertentu penderita Down Syndrome juga
mengalami kelainan pencernaan berupa pemblokiran usus.
Pada umumnya penderita Down syndrome juga mengalami resiko kesehatan
lainnya seperti gastroesophageal reflux dimana terjadi arus balik asam
lambung ke esophagus. Disamping itu penderita juga mengalami kondisi
yang disebut dengan celiac disease dimana terjadi ketidak toleran
terhadap protein gandum yang disebut dengan glutten.
Sebanyak 15% dari penderita Down Syndrome mengalami hypothyroidism yang
merupakan kondisi dimana kinerja kelenjar thyroid berada di bawah level
normal.
Ciri umum bayi yang mengalami Down Syndrome. | Sumber:
www.womens-health-advice.com
Penderita Down Syndrome biasanya juga memiliki resiko tinggi gangguan
pendengaran dan penglihatan. Walaupun persentasenya sangat kecil,
penderita Down Syndrome juga mengalami kanker sel darah (leukimia).
Dalam perkembangannya anak yang mengalami Down Syndrome ini seringkali
memiliki masalah pertumbuhan yang terlambat dan juga masalah tingkah
laku yang obsesif.
Kemampuan berbicara anak yang mengalami Down Syndrome ini bisanya juga
lebih lambat jika dibandingkan dengan anak normal. Dalam persentase yang
kecil, penderita Down Syndrome dapat menunjukkan gejala autism yang
mempengaruhi komunikasi dan interaksi sosial.
Penderita Down Syndrome biasanya secara bertahap akan mengalami
penurunan kemampuan berpikir ketika usianya mencapai 50 tahun. Down
Syndrome sering kali juga dihubungkan sebagai salah satu penyebab pemicu
penyakit Alzheimer yaitu suatu kondisi dimana individu secara perlahan
kehilangan ingatan.
Apakah Down Syndrome diturunkan?
Sebagian besar kasus Down Syndrome tidak diturunkan ke generasi
berikutnya karena kejadian trisomy kromosom 21 ini sebagian besar
terjadi secara acak saat terjadi pembentukan sel reproduksi orang
tuanya.
Data empiris menunjukkan bahwa kelainan trisomy kromosom 21 ini lebih
umum terjadi pada telur jika dibandingkan dengan sperma.
Mengingat kejadian trisomy kromosom 21 ini terjadi secara acak, maka
cara terbaik bagi orang tua yang diberikan amanah memiliki anak down
syndrome adalah memelihara, menyayangi dan mendidiknya dengan sepenuh
hati, karena manusia tidak selalu dapat mengerti apa yang telah
ditetapkan oleh Allah SWT.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rrnoor/mengenal-lebih-dekat-down-syndrome_56f3980c85afbd4207ca3c21
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rrnoor/mengenal-lebih-dekat-down-syndrome_56f3980c85afbd4207ca3c21
Tidak ada komentar:
Posting Komentar