Oleh sebab itu, anak tunanetra membutuhkan strategi pembelajaran dalam pendidikan sehingga memberikan dampak yang baik bagi perkembangannya. Salah satunya adalah memberikan keterampilan khusus agar mereka dapat melakukan mobilitas dengan cepat, aman dan tepat.
Permasalahan untuk strategi pembelajaran dalam pendidikan anak tunanetra berdasarkan pada dua pemikiran, yaitu :
- Upaya memodifikasi lingkungan supaya sesuai dengan kondisi anak tunanetra
- Upaya pemanfaatan secara optimal indera-indera lain yang masih berfungsi dengan baik untuk mengimbangi kelemahan akibat hilangnya fungsi penglihatan.
Dalam pembelajaran anak tunanetra, ada beberapa prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah :
Prinsip Individual
Prinsip individual merupakan prinsip umum dalam sebuah pembelajaran manapun (pendidikan umum maupun pendidikan anak berkebutuhan khusus) dimana guru dituntut untuk memperhatikan adanya perbedaan masing-masing individu. Dalam pendidikan anak tunanetra, dimensi perbedaan untuk individu itu sendiri menjadi lebih luas dan juga kompleks. Secara umum harus ada perbedaan layanan pendidikan antara anak yang mengalami kebutaan total dengan anak low vision. Prinsip individu ini mengisyaratkan bahwa guru perlu merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan keadaan si anak.Prinsip kekonkritan atau pengalaman penginderaan
Strategi pembelajaran dalam pendidikan yang digunakan oleh guru harus dapat memungkinkan anak tunanetramemperoleh pengalaman secara nyata dari apa yang telah dipelajarinya. Strategi pembelajaran dalam pendidikan harus memungkinkan adanya akses secara langsung terhadap situasi atau objek. Anak-anak tunanetra harus dibimbing untuk meraba, mencium, mendengar, mengecap dan lain sebagainya. Prinsip ini erat kaitannya dengan komponen alat atau media serta lingkungan pembelajaran. Untuk itu perlu disediakan media pembelajaran yang bisa mendukung dan relevan.Prinsip totalitas
Strategi pembelajaran yang dilakukan harus memungkinkan siswa untuk memperoleh pengalaman objek atau situasi secara utuh, caranya dengan guru mendorong siswa untuk melibatkan semua alat indera secara terpadu dalam memahami sebuah konsep. Misalnya saja, untuk mendapatkan gambaran tentang burung, anak tunanetra harus melibatkan indera perabaan untuk mengenali bentuk dan ukuran, sifat permukaan dan kehangatan. Selanjutnya harus memanfaatkan pendengaran untuk mengenali suara burung bahkan anak tunanetra bisa memanfaatkan penciumannya untuk mengenali bau khas burung. Kehilangan penglihatan bagi anak tunanetra menyebabkan dirinya sulituntuk mendapatkan sebuah gambaran utuh dan menyeluruh mengenai objek tertentu. Oleh sebab itu, perabaan dan beberapa teknik penggunaannya sangatlah penting dalam hal ini.Prinsip aktivitas mandiri (selfactivity)
Strategi pembelajaran dalam pendidikan anak tunanetra harus bisa mendorong anak tunanetra agar belajar secara aktif dan mandiri. Anak tunanetra belajar untuk mencari dan menemukan sedangkan guru hanya sebagai fasilitator yang memudahkan para siswa untuk belajar serta sevagai motivator yang membangkitkan keinginan anak untuk mau belajar. Prinsip keempat dalam strategi pembelajaran ini harus memungkinkan siswa untuk mau bekerja dan mengalami, tidak untuk mendengar dan mencatatnya. Keharusan ini memiliki implikasi bahwa seorang siswa perlu mengetahui, menguasai serta menjalani suatu proses untuk memperoleh fakta dan konsep.Dalam strategi pembelajaran untuk anak tunanetra ini, tugas guru adalah mencermati setiap bagian dari kurikulum yang diajarkan. Kurikulum mana yang harus disampaikan secara utuh tanpa mengalami perubahan dan mana yang harus dimodifikasi bahkan harus dihilangkan sama sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar