Sabtu, 23 Desember 2017

Melatih Anak Tunagrahita Mandi



Jika ditinjau dari kata Bina berarti membangun/ proses penyempurnaan agar lebih baik, (kamus Besar Bahasa Indonesia, 1994: 134) maka Bina Diri atau Activity Daily Living (ADL) adalah usaha membangun diri baik sebagai individu maupun mahluk sosial melalui pendidikan di keluarga, sekolah dan di masyarakat sehingga terwujudnya kemandirian dengan keterlibatannya dalam kehidupan sehari-hari. Bina diri tidak sekedar mengurus diri, menolong diri, memelihara diri tetapi lebih dari itu karena kemampuan Bina Diri akan mengantarkan anak tunagrahita untuk menyesuaikan diri dan mencapai kemandirian sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian kajian bina diri anak tunagrahita  diharapkan dapat menghadap kehidupan sehari-hari di masyarakat dan agar anak tunagrahita dapat hidup mandiri.
A.    Tujuan
Tujuan kajian Bina Diri adalah untuk mengembangkan keterampilan dasar dalam memelihara dan memenuhi kebutuhan anak tunagrahita sehingga dapat hidup mandiri dengan tidak/ kurang bergantung pada orang lain, dan mempunyai tanggung jawab sesuai dengan kemampuannya baik sebagai mahluk individu maupun sebagai mahluk sosial.
Sedangkan tujuan secara khusus adalah:
1.      Menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan anak tunagrahita dalam memelihara diri: makan-minum, kebersihan: mengurus diri: berpakaian, berhias, menolong diri: menghindarkan diri dari bahaya api, listrik, benda tajam, komunikasi, sosialisai, dan keterampilan sederhana (menata rumah)
2.      Menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan anak dalam brkomunikasi dan memahami maksud orang lain serta dapat mengkomunikasikan dirinya.
3.      Mrnumbuhkan dan meningkatkan kemampuan anak tunagrahita dalam bersosialisai dan dapat berperan sebagai warga negara, serta perwujudan hak-haknya.
4.      Menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan dalam melakukan suatu keterampilan yang diharapkan dapat digunakan untuk bekal hidupnya, trutama dalam kegiatan di rumah.
B.     Ruang Lingkup
Berdasarkan perkembangan pandangan masyarakat terhadap tujuan pendidikan anak tunagrahita yang selalu di cita-citakan adalah pencapaian kemandirian maka ruang lingkup kajian ini:
1.      Merawat diri meliputi: makan-minum, kebersihan badan
2.      Mengurus diri seperti: berpakaian, berhias
3.      Menolong diri seperti: mengindari dan mengendalikan bahaya
4.      Komunikasi meliputi: komunikasi perbuatan, lian, tulisan dan penggunaan media komunikasi
5.      Sosialisasi meliputi: a. sosial akademis (membaca, menulis, dan berhitung termasuk mengelola uang).
b. kesadaran sosial (peraturan/tata tertib di rumah, di masyarakat, membantu orang lain, memelihara lingkungan, dan menunggu giliran)
c. hubungan sosial (memperkenalkan diri, berteman, bermain, penggunaan sumber-sumber dimasyarakat seperti berbelanja, penggunaan kendaraan umum).
6. keterampilan/ persiapan pekerjaan, meliputi: tat laksana rumah, penguasaan keterampilan, dan mengkomunikasikan hasil pekerjaan.

Tujuan langsung 
Tujuan langsung  pembelajaran bina diri ini agar setelah menyelesaikan mata pelajaran ini mereka mampu mandiri, tidak bergantung pada orang lain dan mempunyai rasa tanggung jawab. Selain itu kemampuan koordinasi motoris dan kontrolnya meningkat sehingga dapat menumbuhkan rasa aman dan minat belajar.
Tujuan tidak langsung
Tujuan tidak langsung mata pelajaran bina diri ini di tetapkan untuk meningkatkan kemampuan konsentrasi dan ketekunan anak dalam belajar, dan mengembangkan kemampuan sensorimotor (penginderaan), berbahasa dan berpikir matematis secara optimal. Tujuan lain di harapkan pula mereka dapat melakukan kegiatan ini untuk orang lain.
C.     Peran Bina Diri dalam Pendidikan Tunagrahita
Peran Bina Diri pada awalnya di kenal sebagai program Merawat Diri karena adanya anggapan bahwa anak tunagrahita tidak/ kurang mampu dalam melakukan kegiatan makan-minum, berpakaian sendiri, menjaga kesehatan, dan sebagainya. Kemampuan merawat diri ini bagi anak normal dapat di kuasai melalui pengamatan (melalui proses meniru/ imitasi), pada anak tunagrahita kemampuan tersebut harus di ajarkan terlebih dahulu. Melalui pembelajaran Bina Diri, anak tunagrahita diharapkan tidak terlalu menggantungkan diri kepada orang lain, dengan kata lain mereka dapat menyesuaikan diri sesuai dengan kemampuannya.
Saat ini pelajaran Bina Diri bukan hanya di peruntukkan bagi pemenuhan kebutuhan anak tunagrahita sendiri, melainkan diharapkan anak tunagrahita dapat melayani orang lain seuai dengan kemampuannya. Misalnya, mereka dapat melayani tamu seperti: membuat dan menghidangkan minuman, menerima pesan, dan menyatakan pendapat: dapat berpergian sendiri, menggunakan fasilitas lingkungan dan lain-lain.
            Berdasarkan uraian diatas maka program pembelajaran Bina Diri memegang peran dalam pendidikan anak tunagrahita karena materi kajian Bina Diri telah mampu mewadahi program pembelajaran yang di butuhkan anak tunagrahita.
Di bawah ini adalah Cara Melatih Anak Tunagrahita dalam Aspek Mandi:


1.      Mengenal alat
a.       Menyebutkan kran air  dan shower



b.        Membedakan kran air dan shower


c.       a.       Menunjukkan kran air dan shower


a.       Menyebutkan bak mandi dan ember
       

b.       Membedakan bak mandi dan ember


c.       Menunjukan bak mandi dan ember

a.       Menyebutkan gayung dan ember kecil
b.       Membedakan gayung dan ember kecil

c.       Menunjukkan gayung dan ember kecil


a.       Menyebutkan handuk besar dan handuk kecil

b.       Membedakan handuk besar dan handuk kecil

                 

 c.       Menunjukkan handuk besar dan handuk kecil

2.      Mengenal bahan

a.       Menyebutkan sabun mandi dan sabun cuci piring


b.       Membedakan sabun mandi dan sabun cuci piring


b.       Menunjukan sabun mandi dan sabun cuci piring
3.      Cara pelaksanaan
a.       Anak diminta untuk membuka pintu kamar mandi
b.      Anak di minta untuk masuk ke kamar mandi
c.       Anak diminta menutup pintu kamar mandi
d.      Anak diminta untuk menggantungkan handuk di gantungan
e.       Anak diminta melepaskan pakaian
f.       Simpan di gantungan
g.      Basahi seluruh tubuh
h.      Anak diminta  untuk meletakan sabun di telapak tangan, dan beri sedikit air
i.        Gosokan sabun yang telah berbusa keseluruh tubuh di mulai dari :
-          Leher
-          Pundak
-          Tangan kiri dan tangan kanan sampai jari-jari kedua tangan
-          Ketiak
-          Dada
-          Perut
-          Punggung
-          Pinggul
-          Pinggang
-          Organ vital
-          Paha
-          Lutut
-          Betis
-          Kaki kanan dan kaki kiri sampai jari-jari kedua kaki
-          Anak diminta membilas hingga busanya hilang
-          Anak diminta mengambil handuk
-          Anak diminta mengeringkan badan
-          Anak diminta memakai pakaian
-          Anak diminta membuka pintu kamar mandi
4.      Memelihara Alat dan Bahan
a.       Anak diminta menyimpan sabun di tempatnya


a.       Anak diminta menjemur handuk
Sumber: Buku Bina Diri Untuk ANAK TUNAGRAHITA oleh Astati




























Minggu, 24 April 2016

Pentingnya penerapan terapi wicara bagi anak tuna rungu


DEFINISI
Istilah tunarungu mungkin tidak asing lagi ditelinga kita, bahkan sebagian besar masyarakat sudah mengenal dengan berbagai macam istilah lain, misalnya: Tuli, bisu, cacat dengar atau kurang dengar. Menurut bahasa istilah tuna rungu berasal dari kata “tuna” yaang berarti kurang, dan “rungu“ yang berarti pendenggaran. Orang atau anak dikatakan tuna rungu apabila ia tidak mampu mendengar suara. Dari batasan beberapa ahli, disimpulkan pengertian tunarungu adalah seseorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan karena tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran, sehingga ia tidak dapat menggnakan alat pendengarannya dalam kehidupan sehari-hari yang membawa dampak terhadap kehidupannya secara kompleks.
KLASIFIKASI
Pada umumnya anak tunarungu digolongkan atau diklasifikasikan menjadi “dua” kelompok besar, yaitu: tuli dan kurang dengar.
  • Orang dikatakan TULI apabila seseorang tersebut mengalami kehilangan kemampuan mendengar, sehingga menghambat proses informasi bahasa melalui pendengaran, baik memakai ataupun tidak memakai alat bantu dengar.
  • Orang kurang dengar adalah seseoraang yang mengalami kehilangan sebagian kemampuan mendengar, tetapi ia masih mempunyaai sisa-sisa pendengaran dan memungkinkan memakai alat bantu mendengar sebagai sarana untuk membantu proses keberhasilan informasi bahasa melalui pendengaran.
Klasifikasi tuna rungu menurut Samuel A.kirk.
  • 0 dB ( decible )
Menunjukkan pendengaran yang optimal.
  • 0 – 26 dB
Menuunjukkan pendeengaran yang normal.
  • 27 – 40 ( tuna rungu ringan )
Mempunyai kesulitan mendengar bunyi-bunyi yang jauh, membutuhkan tempat duduk yang tempatnya strategis dan mmembutuhkan terapi wicara.
  • 41 – 55 ( tuna rungu sedang )
Mengerti bahasa percakapan, tidak dapat mengikuti diskusi kelas, membutuhkan alat bantu dengar dan terapi wicara.
  • 56 – 70 ( tuna rungu agak berat )
Hanya bisa mendengar suara dari jarak yang dekat, mempunyai sisa pendengaran untuk belajar bahasa dan berbicara dengan alat bantu mendngar dan denggan cara khusus.
  • 71 – 90 ( tuna rungu berat )
Hanya bisa mendengar bunyi yang sangat dekat, kadang-kadang dianggap tuli, membutuhkan yang intensif, membutuhkan alat bantu mendengar dan latihan berbicara secara khusus.
  • > 90 ( tuna rungu sangat berat / berat sekali )
Mungkin sadar akan adanya bunyi atau suara dan getaran, banyak bergantung pada penglihatan dari pada pendengaran untuk proses menerima informasi dan yang bersangkutan dianggap tuli.

DETEKSI KETUNARUNGUAN
Mendeteksi kehilangan pendengaran merupakan persoalan tekhnis, dimana mengenali anak tuli lebih mudah di banding mengenali atau menemukan anak yang kurang dengar.
  • Gejala umum anak kurang dengar ringan antara lain :
a. Anak yang acuh tak acuh, kebingungan atau penurut.
b. Anak-anak yang menghayal secara berlebihan.
c. Anak yang prestasinya rendah.
d. Anak yang sedikit mengalami gangguan bicara.
e. Anak yang malas.
f. Anak yang nampak bodoh.

BEBERAPA CARA YANG BISA DILAKUKAN UNTUK MENDETEKSI KETUNARUNGUAN ANTARA LAIN :
a. Tes dengan alat sederhana ( tradisional )
Pada bayi yang mulai meraban dapat dilakukan tes, karena pendengarran anak sudah mulai memegang peran. Dengan mengetukkan sendok pada piring atau dengan panggilan dari sisi belakang atau samping anak. Perhatikan respon yang diberikan anak.
b. Tes dengan uang logam ( coin clik test )
yaitu dengan cara mengetukkan uang logam, dan lihat respon anak terhadap suara tersebut.
    1. Tes denggan detik jam. ( watch tick test )
Pelaksanaan tes diberikan di rung yang sunyi, anak berdiri disamping tester dengan menutup telinga yang tidak di tes, jam di tempatkan dekat dengan telinga dan sedikit deemi sedikit dijauhkan secara horizontal sampai anak tidak dapat mendengar. Menurut praktek, jika anak tidak dapat mendengar detik jam pada jarak 48 inci sampai 16 inci maka ia dianggap kurang dengar.

Pada dasarnya intelegensi dan kemampuan bahasa anak tunarungu sama dengan anak normal. Pada saat bayi, perkembangan bahasa dan bicara anak tunarungu tidak mengalami hambatan, namun pada saat perkembangan meraban anak mencoba menirukan suara yang ada disekitarnya tetapi anak tidak dapat mendengar apa yang telah diucapkannya, dan tidak dapat mendengar respon dari orang yang disekitarnya. Karena keadaan itulah maka anak tunarungu merasa usaha yang dilakukannya sia-sia, sehingga berdampak pada kemalasan anak untuk belajar berbicara. Apabila hal tersebut dibiarkan atau tidak segera mendapat respon aktif dari orang tua atau orang yang ada disekitarnya, maka yang terjadi anak tidak dapat berbicara atau mengalami kesulitan berbicara hingga pada usia dewasa.
Kita sebagai orang tua atau guru harus berperan aktif melatih berbicara anak secara terus menerus, tentunya bertahap mulai dari kata yang sederhana misalnya kata yang disukai anak hinggaa kata-kata yang belum pernah diketahui anak. Pada prinsipnya peran orangg tua dan orang-orang yang ada disekitar anak tunarungu sangat membantu kelancaran berbicara anak tuna tersebut.

Adapun beberapa metode terapi wicara antara lain :
  • Metode lips reading / membaca ujaran
Penekanannya pada kemampuan anak yang diharuskan dapat menangkap bunyi atau suara atau ungkapan seseorang melalui penglihatannya, dengan kata lain anak harus dapat membaca gerak bibir.
  • Metode oral
Cara untuk melatih anak tunarungu dapat berkomunikasi secara lisan (verbal) dengan lingkungan orang mendengar. Yaitu dengan cara melibatkan anak tuunarungu wicara, berbicara secara lisan dalam settiap keesempatan.
  • Metode Manual
Cara mengajaar atau melatih anak tunarungu berkomunikasi dengan menggunakan isyarat atau ejaan jari.
  • Meetode AVT ( Auditori, visual Therapy )
Perpaduan antara penerapan suara, mimik muka, dan bahasa bibir. Tujuannya yaitu dengan suara kita dapt mengoptimalkan sisa pendengaran anak, dengan mimik muka dan bahasa bibir diharapkan anak lebih mengerti atau lebih mudah memahami setiap kata yang diucapkan secara visual.


Hal yang harus diperhatikan dalam speach therpy/ terapi wicara antara lain :
    1. Alat artikulasi anak . ( terdapat / kecacatan atau tidak )
    2. Pembentukan vokal dan konsonan.
    3. Tingkat kurang dengar anak ( ringan, sedang, berat atau sangat berat ).
    4. Tingkat kelainan anak.
Dari beberapa hal diatas perlu mendapat perhatian khusus, karena hal tersebut sangat berpengaruh pada penanganan awal atau apa saja konsep awal yang akan diberikan kepada anak.

Saat ini, tentunya sudah banyak berbagai macam modifikasi terapi yang lebih modern dan lebih detail, namun pada dasarnya semua itu tergantung dari bagaimana cara penangan yang dilakukan terhadap anak. Hendaknya sedini mungkin anak tunarungu wicara dilatih untuk berbicara dan melakukan percakapan-percakan dengan orang normal, agar mereka merasa terbiasa dan organ artikulasinya terlatih sejak dini.

Beberapa cara atau usaha dalam mengembangkan bahasa anak tunarungu menurut edja sajah & dardjo sukarja antara lain :
a. Perkembangan fungsi gerakan untuk kesiapan berbicara. Meliputi :
    • Latihan nafas
    • Latihan alat berbicara
Tujuannya adalah : - mengajak anak menyadari adanya gerakan motorik bicara.
- Kesiapan dalam membentuk bunyi bahasa melalui alat-alat bicara.
- membiaskan bahasa yang benar untuk memmprouksi bunyi bahasa.
- persepsi pendengaran, penglihatan, perabaan dan rasa.
b. Pengembangan fungsi pengertian.
    • Latihan bahasa pasif
    • Latihan perintah
Tujuannya adalah : - Mengembangkan pengertian melalui bahasa verbal.
- Memahami situasi yang dialami
- Melaksanakan perintah verbal
c. Keemampuan berbahasa verbal.
    • Latihan pendengaran
    • Latihan bahasa
    • Latihan berbicara
Tujuannya adalah : - Menanamkan pengertian
- Menstimulasikan anak kearah peniruan secara sistimatis
- Menggunakan bicara dan bahasa
- Mengembangkan dan memfungsikan sisa pendengaran yang dimiliki
- Vokalisasi dan ekspresi
d. Gerakan fungsi motorik, meliputi :
    • Peniruan gerak
    • konsep gerakan yang benar
    • koordinasi gerakan dengan penglihatan.
Tujuannya adalah : - Mengajak anak untuk berinteraksi dengan lingkungan.
- Mengembangkan fungsi motorik yng berhubungan dengan pengertian- pengertian.
- Melaksanakan gerakan-gaerakan secara aktif.

Usaha-usaha diatas dapat dilakukan dan dikembangkan oleh orang tua, dalam hal ini peranan guru sangat diharapkan untuk memberikan saran. Kegiatan-kegiatan dan rangsangan tersebut hendaknya dapat menunjang perkembangan anak, terutama kompetensi berbahasa anak. Pendidikan informal ini dapat dilaksanakan sedini mungkin agar anak lebih terbiasa berkomunikasi dan dapat berinteraksi secara normal dan tanpa ada rasa minder didalam lingkungan masyarakat.

Mengenal Lebih Dekat dengan Down Syndrome

Pengertian Down Syndrome

      Down syndrome pertama kali diperkenalkan oleh dokter berkebangsaan Inggris, Dr. John Longdon Down pada tahun 1866. Penelitian ini dilakukan terhadap sekumpulan orang yang memiliki kesamaan struktur wajah. Sembilan puluh tiga tahun kemudian tepatnya pada tahun 1959, Dr. Jerome Lejeune membuktikan penyebab dari sindrom tersebut. Sekarang down syndrome dikenal sebagai gangguan genetik yang disebabkan oleh perkembangan abnormal pada kromosom.
Saat dilahirkan, bayi normal memiliki 46 kromosom yang terdiri dari 22 pasang autosom dan 1 pasang kromosom seks yang akan menentukan jenis kelamin. Namun, pada bayi penderita down syndrome ditemukan kelainan kromosom pada berkas 21. Terdapat tiga kondisi kelainan kromosom 21 yang menyebabkan terjadinya down syndrome yaitu non-disjunction, translocation dan mosaic.
Sebagian besar kelainan kromosom pada penderita down syndrome disebabkan oleh kondisi non-disjunction. Pada kategori ini penderita memiliki tiga kromosom pada berkas 21 yang idealnya hanya terdapat sepasang kromosom. Hal ini disebabkan tidak sempurnanya pembelahan sel secara mitosis. Tipe ini biasa disebut dengan trisomy 21. Pada ibu dengan usia lebih dari 40 tahun, ditemukan resiko lebih besar terjadinya kelainan kromosom tipe ini.
Translocation merupakan kelainan kromosom yang terjadi karena adanya pencampuran kromosom berkas 21 pada kromosom berkas lain (biasanya terjadi pada berkas 14). Penderita down syndrome dengan kelainan kromosom yang disebabkan oleh translocation memiliki jumlah kromosom seperti bayi normal yaitu 46 kromosom. Kondisi ini biasa terjadi pada ibu dengan usia muda.
Terakhir adalah tipe mosaic, tipe ini memiliki kromosom trisomy sama dengan tipe non-disjunction. Secara klinis, tipe ini dianggap lebih ringan karena terdapat sel normal dan sel abnormal yang hidup berdampingan.

Penyebab dan ciri penderita down syndrome.

      Menurut Psikolog Anak Firesta Farizal, M.Psi.,Psikolog.,berdasarkan literatur, ada sejumlah faktor yang diduga dapat memperbesar resiko kemungkinan munculnya gangguan down syndrome, salah satunya adalah ibu dengan usia lebih dari 40 tahun.“Semakin tua usia ibu, semakin besar perbandingan resiko ia dapat melahirkan anak dengan gangguan down syndrome.”, jelas Psikolog Anak yang akrab disapa Ibu Etha ini.
Bila dilihat secara fisik, si kecil dengan gangguan down syndrome memiliki ciri fisik yang cenderung mirip. Postur tubuh mereka cenderung lebih pendek dari anak seusianya dengan kepala relatif kecil. Bentuk mata sipit seperti almond dan memiliki lipatan pada bagian luar dengan jarak antar mata cukup jauh. Penderita memiliki mulut kecil dengan lidah yang tebal atau lebar, sehingga lidah menjulur keluar. Kadang hanya ditemukan garis tunggal yang memotong secara horizontal telapak tangannya (simian crease). Mereka juga memiliki otot-otot yang lemah sehingga cenderung terlihat lemas dan terkulai.
Sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah dari anak normal, membuat si kecil rentan terhadap penyakit. Tidak hanya itu, ditemukan juga komplikasi penyakit pada si kecil. Komplikasi yang ditemukan pada setiap individu berbeda dan bervariasi. komplikasi ini terjadi karena perkembangan organ yang tidak sempurna. Ada yang memiliki sistem pendengaran yang kurang baik, atau gangguan pencernaan. Ada juga yang memiliki penyakit jantung bawaan, leukemia atau infeksi paru-paru. Pada indera penglihatan sering ditemui miopi atau presbiopi dan katarak pada usia dewasa.
“Si kecil dengan gangguan down syndrome juga mengalami keterlambatan pertumbuhan mental. Umumnya penderita memiliki kisaran IQ area mental retardasi mild (ringan) and moderate (sedang), yaitu dibawah 50. Dengan kisaran IQ anak normal sekitar 90-110.”, sambung bu Etha dalam wawancara di sela-sela kesibukanya.

Deteksi dan Intervensi sejak dini.

       Gangguan down syndrome dapat dideteksi sejak dalam kandungan. Salah satu cara dengan memonitor perkembangan janin melalui usg. Dari hasil usg dapat dilihat ciri fisik bayi dan pertumbuhan organnya. Kemudian dilanjutkan dengan tes kromosom untuk memastikan apakah bayi tersebut memiliki kelainan kromosom.
Dengan dideteksi sejak masa kandungan, si kecil dengan gangguan down syndrome akan mendapatkan penanganan sejak dini. Intervensi sejak dini bertujuan untuk membantu tumbuh kembangnya.Si kecil yang diberikan rangsangan dan stimulus secara konsisten,perkembangan otaknya akan meningkat sehingga perkembangannya akan lebih optimal dibandingkan dengan anak yang tidak mendapatkan intervensi dini. Orang tua dapat berkonsultasi dengan Dokter Anak atau Psikolog Anak untuk menentukan intervensi yang diperlukan.
Idealnya si kecil akan membutuhkan terapi atau latihan untuk menstimulus tumbuh kembangnya. Terapi atau latihan dilakukan secara bertahap tanpa terikat batas waktu.Setiap individu memiliki grafik perkembangannya sendiri. Jika si kecil telah menguasai satu keterampilan maka target akan meningkat ke keterampilan yang lebih sulit. Terdapat beberapa tingkat keterampilan yang perlu di kuasai si kecil agar iadapat hidup secara mandiri.
Tahap pertama si kecil membutuhkan fisioterapi untuk menguatkan otot-ototnya sehingga ia dapat mengembangkan kemampuan motorik kasar seperti tengkurap, merangkak dan berdiri. Selanjutnya, si kecil membutuhkan terapi wicara agar dapat menguasai komunikasi bicara. Tahap ketiga, terapi okupasi untuk membantu si kecil menguasai keterampilan motorik halus, seperti mengancingkan baju dan menulis. Jika si kecil telah mengenyam pendidikan, maka iaakan membutuhkan terapi edukasi untuk membantunya dalam hal akademis.
Dibalik kekurangan penderita down syndrome terdapat kelebihan yang terpancar. Semangat juang si kecil untuk tumbuh dan berkembang perlu diacungi jempol. Walau harus berjuang sejak dilahirkan tapi senyum si kecil tak lepas dari wajahnya. Penderita gangguan down syndrome ada bukan untuk dihindari tapi mereka ada untuk dikasihi. Selamat hari down syndrome sedunia.
Agar dapat lebih mengerti kelainan ini ada baiknya kita mengingat kembali jumlah kromosom normal pada manusia. Setiap individu normal memiliki sebanyak 23 pasang kromosom dengan jumlah total 46 kromosom. Jumlah 46 kromosom yang dimiliki seseorang ini berasal ayah dan ibunya yang masing masing berkontribusi sebanyak 23 kromosom. Apabila dalam keadaan tertentu seseorang jumlah kromosom yang dimilikinya kurang ataupun melebihi dari jumlah kromosom normal ini, maka akan muncul abnormalitas. Salah satu kelainan jumlah kromosom yang ingin saya bahas kali ini adalah Down Syndrome. Menurut WHO di seluruh dunia diperkirakan kejadian Down Syndrome ini 1 dari setiap 1000 kelahiran. Walaupun sampai saat ini penyebab pasti Down Syndrome masih belum ditemukan, namun data di lapangan menunjukkan bahwa dengan semakin berumurnya seorang ibu, maka peluang untuk mendapatkan anak Down Syndrome ini akan semakin meningkat. Apa itu Down Syndrome? Sebagian besar Down Syndrome menyangkut kelainan kromosom dimana kromosom nomor 21 jumlahnya tidak sepasang sebagaimana yang terjadi pada individu normal namun jumlahnya tiga buah (dalam ilmu genetika disebut dengan trisomy). Trisomy kromosom 21 ini umumnya ditemukan di setiap sel penderita Down Syndrome. Trisomy pada kromosom 21 penderita Down Syndrome. | Sumber: 1.bp.blogspot.com Sebagian besar kejadian trisomy kromosom 21 ini disebabkan oleh proses yang dinamakan nondisjunction dimana pada saat pembentukan gamet (pemisahan pasangan kromosom), kromosom yang mengandung materi genetik gagal ini berpisah secara sempurna sehingga mengakibatkan terjadinya kelebihan kromosom. Nondisjunction merupakan salah satu penyebab terjadinya Trisomy. | Sumber: nickm99.files.wordpress.com Kejadian Down Syndrome lainnya yang jarang terjadi adalah akibat proses yang dinamakan translokasi kromosom, dimana bagian kromosom 21 menempel pada kromosom 21 lainnya pada saat pada saat produksi sel sperma atau sel telur orang tuanya. Kejadian translokasi ini dapat juga terjadi pada tahap awal pembentukan fetus. Kejadian Down Syndrome seperti ini dikenal sebagai translocation Down syndrome. Gagalnya pemisahan kromosom pada saat pembentukan gamet pada sel telur yang mengakibatkan kejadian trisomy pada anak. | Sumber: www.meddean.luc.edu Disamping kedua proses di atas walaupun prosentasenya sangat kecil seorang penderita Down Syndrome hanya memiliki trisomy kromosom 21 di beberapa bagian tubuhnya saja. Kondisi Down Syndrome seperti ini disebut dengan mosaic Down syndrome. Para meneliti menyakini bahwa kelebihan kromosom 21 inilah yang mengganggu perkembangan fetus ke tahapan berikutnya yang menimbulkan kondisi kelainan genetik yang dinamakan Down Syndrome yang berpengaruh pada kesehatan. Apa dampaknya? Down Syndrome sangat kental dicirikan dengan bentuk wajah yang khas dan kelemahan perototan (hypotonia) pada bayi. Di samping itu kondisi ini juga terkait dengan keterlambatan kemampuan kognitif. Namun demikian biasanya gangguan kemampuan intelektualnya dalam skala sedang. Hu YiZhaou penderita Down Syndrome yang menjadi konduktor simponi orkestra ternama. | Photo: www.everlasting.lk Sekitar 50% dari anak yang terlahir dengan Down Syndrome mengalami kelainan jantung. Dalam kasus tertentu penderita Down Syndrome juga mengalami kelainan pencernaan berupa pemblokiran usus. Pada umumnya penderita Down syndrome juga mengalami resiko kesehatan lainnya seperti gastroesophageal reflux dimana terjadi arus balik asam lambung ke esophagus. Disamping itu penderita juga mengalami kondisi yang disebut dengan celiac disease dimana terjadi ketidak toleran terhadap protein gandum yang disebut dengan glutten. Sebanyak 15% dari penderita Down Syndrome mengalami hypothyroidism yang merupakan kondisi dimana kinerja kelenjar thyroid berada di bawah level normal. Ciri umum bayi yang mengalami Down Syndrome. | Sumber: www.womens-health-advice.com Penderita Down Syndrome biasanya juga memiliki resiko tinggi gangguan pendengaran dan penglihatan. Walaupun persentasenya sangat kecil, penderita Down Syndrome juga mengalami kanker sel darah (leukimia). Dalam perkembangannya anak yang mengalami Down Syndrome ini seringkali memiliki masalah pertumbuhan yang terlambat dan juga masalah tingkah laku yang obsesif. Kemampuan berbicara anak yang mengalami Down Syndrome ini bisanya juga lebih lambat jika dibandingkan dengan anak normal. Dalam persentase yang kecil, penderita Down Syndrome dapat menunjukkan gejala autism yang mempengaruhi komunikasi dan interaksi sosial. Penderita Down Syndrome biasanya secara bertahap akan mengalami penurunan kemampuan berpikir ketika usianya mencapai 50 tahun. Down Syndrome sering kali juga dihubungkan sebagai salah satu penyebab pemicu penyakit Alzheimer yaitu suatu kondisi dimana individu secara perlahan kehilangan ingatan. Apakah Down Syndrome diturunkan? Sebagian besar kasus Down Syndrome tidak diturunkan ke generasi berikutnya karena kejadian trisomy kromosom 21 ini sebagian besar terjadi secara acak saat terjadi pembentukan sel reproduksi orang tuanya. Data empiris menunjukkan bahwa kelainan trisomy kromosom 21 ini lebih umum terjadi pada telur jika dibandingkan dengan sperma. Mengingat kejadian trisomy kromosom 21 ini terjadi secara acak, maka cara terbaik bagi orang tua yang diberikan amanah memiliki anak down syndrome adalah memelihara, menyayangi dan mendidiknya dengan sepenuh hati, karena manusia tidak selalu dapat mengerti apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rrnoor/mengenal-lebih-dekat-down-syndrome_56f3980c85afbd4207ca3c21
Agar dapat lebih mengerti kelainan ini ada baiknya kita mengingat kembali jumlah kromosom normal pada manusia. Setiap individu normal memiliki sebanyak 23 pasang kromosom dengan jumlah total 46 kromosom. Jumlah 46 kromosom yang dimiliki seseorang ini berasal ayah dan ibunya yang masing masing berkontribusi sebanyak 23 kromosom. Apabila dalam keadaan tertentu seseorang jumlah kromosom yang dimilikinya kurang ataupun melebihi dari jumlah kromosom normal ini, maka akan muncul abnormalitas. Salah satu kelainan jumlah kromosom yang ingin saya bahas kali ini adalah Down Syndrome. Menurut WHO di seluruh dunia diperkirakan kejadian Down Syndrome ini 1 dari setiap 1000 kelahiran. Walaupun sampai saat ini penyebab pasti Down Syndrome masih belum ditemukan, namun data di lapangan menunjukkan bahwa dengan semakin berumurnya seorang ibu, maka peluang untuk mendapatkan anak Down Syndrome ini akan semakin meningkat. Apa itu Down Syndrome? Sebagian besar Down Syndrome menyangkut kelainan kromosom dimana kromosom nomor 21 jumlahnya tidak sepasang sebagaimana yang terjadi pada individu normal namun jumlahnya tiga buah (dalam ilmu genetika disebut dengan trisomy). Trisomy kromosom 21 ini umumnya ditemukan di setiap sel penderita Down Syndrome. Trisomy pada kromosom 21 penderita Down Syndrome. | Sumber: 1.bp.blogspot.com Sebagian besar kejadian trisomy kromosom 21 ini disebabkan oleh proses yang dinamakan nondisjunction dimana pada saat pembentukan gamet (pemisahan pasangan kromosom), kromosom yang mengandung materi genetik gagal ini berpisah secara sempurna sehingga mengakibatkan terjadinya kelebihan kromosom. Nondisjunction merupakan salah satu penyebab terjadinya Trisomy. | Sumber: nickm99.files.wordpress.com Kejadian Down Syndrome lainnya yang jarang terjadi adalah akibat proses yang dinamakan translokasi kromosom, dimana bagian kromosom 21 menempel pada kromosom 21 lainnya pada saat pada saat produksi sel sperma atau sel telur orang tuanya. Kejadian translokasi ini dapat juga terjadi pada tahap awal pembentukan fetus. Kejadian Down Syndrome seperti ini dikenal sebagai translocation Down syndrome. Gagalnya pemisahan kromosom pada saat pembentukan gamet pada sel telur yang mengakibatkan kejadian trisomy pada anak. | Sumber: www.meddean.luc.edu Disamping kedua proses di atas walaupun prosentasenya sangat kecil seorang penderita Down Syndrome hanya memiliki trisomy kromosom 21 di beberapa bagian tubuhnya saja. Kondisi Down Syndrome seperti ini disebut dengan mosaic Down syndrome. Para meneliti menyakini bahwa kelebihan kromosom 21 inilah yang mengganggu perkembangan fetus ke tahapan berikutnya yang menimbulkan kondisi kelainan genetik yang dinamakan Down Syndrome yang berpengaruh pada kesehatan. Apa dampaknya? Down Syndrome sangat kental dicirikan dengan bentuk wajah yang khas dan kelemahan perototan (hypotonia) pada bayi. Di samping itu kondisi ini juga terkait dengan keterlambatan kemampuan kognitif. Namun demikian biasanya gangguan kemampuan intelektualnya dalam skala sedang. Hu YiZhaou penderita Down Syndrome yang menjadi konduktor simponi orkestra ternama. | Photo: www.everlasting.lk Sekitar 50% dari anak yang terlahir dengan Down Syndrome mengalami kelainan jantung. Dalam kasus tertentu penderita Down Syndrome juga mengalami kelainan pencernaan berupa pemblokiran usus. Pada umumnya penderita Down syndrome juga mengalami resiko kesehatan lainnya seperti gastroesophageal reflux dimana terjadi arus balik asam lambung ke esophagus. Disamping itu penderita juga mengalami kondisi yang disebut dengan celiac disease dimana terjadi ketidak toleran terhadap protein gandum yang disebut dengan glutten. Sebanyak 15% dari penderita Down Syndrome mengalami hypothyroidism yang merupakan kondisi dimana kinerja kelenjar thyroid berada di bawah level normal. Ciri umum bayi yang mengalami Down Syndrome. | Sumber: www.womens-health-advice.com Penderita Down Syndrome biasanya juga memiliki resiko tinggi gangguan pendengaran dan penglihatan. Walaupun persentasenya sangat kecil, penderita Down Syndrome juga mengalami kanker sel darah (leukimia). Dalam perkembangannya anak yang mengalami Down Syndrome ini seringkali memiliki masalah pertumbuhan yang terlambat dan juga masalah tingkah laku yang obsesif. Kemampuan berbicara anak yang mengalami Down Syndrome ini bisanya juga lebih lambat jika dibandingkan dengan anak normal. Dalam persentase yang kecil, penderita Down Syndrome dapat menunjukkan gejala autism yang mempengaruhi komunikasi dan interaksi sosial. Penderita Down Syndrome biasanya secara bertahap akan mengalami penurunan kemampuan berpikir ketika usianya mencapai 50 tahun. Down Syndrome sering kali juga dihubungkan sebagai salah satu penyebab pemicu penyakit Alzheimer yaitu suatu kondisi dimana individu secara perlahan kehilangan ingatan. Apakah Down Syndrome diturunkan? Sebagian besar kasus Down Syndrome tidak diturunkan ke generasi berikutnya karena kejadian trisomy kromosom 21 ini sebagian besar terjadi secara acak saat terjadi pembentukan sel reproduksi orang tuanya. Data empiris menunjukkan bahwa kelainan trisomy kromosom 21 ini lebih umum terjadi pada telur jika dibandingkan dengan sperma. Mengingat kejadian trisomy kromosom 21 ini terjadi secara acak, maka cara terbaik bagi orang tua yang diberikan amanah memiliki anak down syndrome adalah memelihara, menyayangi dan mendidiknya dengan sepenuh hati, karena manusia tidak selalu dapat mengerti apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rrnoor/mengenal-lebih-dekat-down-syndrome_56f3980c85afbd4207ca3c21
Agar dapat lebih mengerti kelainan ini ada baiknya kita mengingat kembali jumlah kromosom normal pada manusia. Setiap individu normal memiliki sebanyak 23 pasang kromosom dengan jumlah total 46 kromosom. Jumlah 46 kromosom yang dimiliki seseorang ini berasal ayah dan ibunya yang masing masing berkontribusi sebanyak 23 kromosom. Apabila dalam keadaan tertentu seseorang jumlah kromosom yang dimilikinya kurang ataupun melebihi dari jumlah kromosom normal ini, maka akan muncul abnormalitas. Salah satu kelainan jumlah kromosom yang ingin saya bahas kali ini adalah Down Syndrome. Menurut WHO di seluruh dunia diperkirakan kejadian Down Syndrome ini 1 dari setiap 1000 kelahiran. Walaupun sampai saat ini penyebab pasti Down Syndrome masih belum ditemukan, namun data di lapangan menunjukkan bahwa dengan semakin berumurnya seorang ibu, maka peluang untuk mendapatkan anak Down Syndrome ini akan semakin meningkat. Apa itu Down Syndrome? Sebagian besar Down Syndrome menyangkut kelainan kromosom dimana kromosom nomor 21 jumlahnya tidak sepasang sebagaimana yang terjadi pada individu normal namun jumlahnya tiga buah (dalam ilmu genetika disebut dengan trisomy). Trisomy kromosom 21 ini umumnya ditemukan di setiap sel penderita Down Syndrome. Trisomy pada kromosom 21 penderita Down Syndrome. | Sumber: 1.bp.blogspot.com Sebagian besar kejadian trisomy kromosom 21 ini disebabkan oleh proses yang dinamakan nondisjunction dimana pada saat pembentukan gamet (pemisahan pasangan kromosom), kromosom yang mengandung materi genetik gagal ini berpisah secara sempurna sehingga mengakibatkan terjadinya kelebihan kromosom. Nondisjunction merupakan salah satu penyebab terjadinya Trisomy. | Sumber: nickm99.files.wordpress.com Kejadian Down Syndrome lainnya yang jarang terjadi adalah akibat proses yang dinamakan translokasi kromosom, dimana bagian kromosom 21 menempel pada kromosom 21 lainnya pada saat pada saat produksi sel sperma atau sel telur orang tuanya. Kejadian translokasi ini dapat juga terjadi pada tahap awal pembentukan fetus. Kejadian Down Syndrome seperti ini dikenal sebagai translocation Down syndrome. Gagalnya pemisahan kromosom pada saat pembentukan gamet pada sel telur yang mengakibatkan kejadian trisomy pada anak. | Sumber: www.meddean.luc.edu Disamping kedua proses di atas walaupun prosentasenya sangat kecil seorang penderita Down Syndrome hanya memiliki trisomy kromosom 21 di beberapa bagian tubuhnya saja. Kondisi Down Syndrome seperti ini disebut dengan mosaic Down syndrome. Para meneliti menyakini bahwa kelebihan kromosom 21 inilah yang mengganggu perkembangan fetus ke tahapan berikutnya yang menimbulkan kondisi kelainan genetik yang dinamakan Down Syndrome yang berpengaruh pada kesehatan. Apa dampaknya? Down Syndrome sangat kental dicirikan dengan bentuk wajah yang khas dan kelemahan perototan (hypotonia) pada bayi. Di samping itu kondisi ini juga terkait dengan keterlambatan kemampuan kognitif. Namun demikian biasanya gangguan kemampuan intelektualnya dalam skala sedang. Hu YiZhaou penderita Down Syndrome yang menjadi konduktor simponi orkestra ternama. | Photo: www.everlasting.lk Sekitar 50% dari anak yang terlahir dengan Down Syndrome mengalami kelainan jantung. Dalam kasus tertentu penderita Down Syndrome juga mengalami kelainan pencernaan berupa pemblokiran usus. Pada umumnya penderita Down syndrome juga mengalami resiko kesehatan lainnya seperti gastroesophageal reflux dimana terjadi arus balik asam lambung ke esophagus. Disamping itu penderita juga mengalami kondisi yang disebut dengan celiac disease dimana terjadi ketidak toleran terhadap protein gandum yang disebut dengan glutten. Sebanyak 15% dari penderita Down Syndrome mengalami hypothyroidism yang merupakan kondisi dimana kinerja kelenjar thyroid berada di bawah level normal. Ciri umum bayi yang mengalami Down Syndrome. | Sumber: www.womens-health-advice.com Penderita Down Syndrome biasanya juga memiliki resiko tinggi gangguan pendengaran dan penglihatan. Walaupun persentasenya sangat kecil, penderita Down Syndrome juga mengalami kanker sel darah (leukimia). Dalam perkembangannya anak yang mengalami Down Syndrome ini seringkali memiliki masalah pertumbuhan yang terlambat dan juga masalah tingkah laku yang obsesif. Kemampuan berbicara anak yang mengalami Down Syndrome ini bisanya juga lebih lambat jika dibandingkan dengan anak normal. Dalam persentase yang kecil, penderita Down Syndrome dapat menunjukkan gejala autism yang mempengaruhi komunikasi dan interaksi sosial. Penderita Down Syndrome biasanya secara bertahap akan mengalami penurunan kemampuan berpikir ketika usianya mencapai 50 tahun. Down Syndrome sering kali juga dihubungkan sebagai salah satu penyebab pemicu penyakit Alzheimer yaitu suatu kondisi dimana individu secara perlahan kehilangan ingatan. Apakah Down Syndrome diturunkan? Sebagian besar kasus Down Syndrome tidak diturunkan ke generasi berikutnya karena kejadian trisomy kromosom 21 ini sebagian besar terjadi secara acak saat terjadi pembentukan sel reproduksi orang tuanya. Data empiris menunjukkan bahwa kelainan trisomy kromosom 21 ini lebih umum terjadi pada telur jika dibandingkan dengan sperma. Mengingat kejadian trisomy kromosom 21 ini terjadi secara acak, maka cara terbaik bagi orang tua yang diberikan amanah memiliki anak down syndrome adalah memelihara, menyayangi dan mendidiknya dengan sepenuh hati, karena manusia tidak selalu dapat mengerti apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rrnoor/mengenal-lebih-dekat-down-syndrome_56f3980c85afbd4207ca3c21
Agar dapat lebih mengerti kelainan ini ada baiknya kita mengingat kembali jumlah kromosom normal pada manusia. Setiap individu normal memiliki sebanyak 23 pasang kromosom dengan jumlah total 46 kromosom. Jumlah 46 kromosom yang dimiliki seseorang ini berasal ayah dan ibunya yang masing masing berkontribusi sebanyak 23 kromosom. Apabila dalam keadaan tertentu seseorang jumlah kromosom yang dimilikinya kurang ataupun melebihi dari jumlah kromosom normal ini, maka akan muncul abnormalitas. Salah satu kelainan jumlah kromosom yang ingin saya bahas kali ini adalah Down Syndrome. Menurut WHO di seluruh dunia diperkirakan kejadian Down Syndrome ini 1 dari setiap 1000 kelahiran. Walaupun sampai saat ini penyebab pasti Down Syndrome masih belum ditemukan, namun data di lapangan menunjukkan bahwa dengan semakin berumurnya seorang ibu, maka peluang untuk mendapatkan anak Down Syndrome ini akan semakin meningkat. Apa itu Down Syndrome? Sebagian besar Down Syndrome menyangkut kelainan kromosom dimana kromosom nomor 21 jumlahnya tidak sepasang sebagaimana yang terjadi pada individu normal namun jumlahnya tiga buah (dalam ilmu genetika disebut dengan trisomy). Trisomy kromosom 21 ini umumnya ditemukan di setiap sel penderita Down Syndrome. Trisomy pada kromosom 21 penderita Down Syndrome. | Sumber: 1.bp.blogspot.com Sebagian besar kejadian trisomy kromosom 21 ini disebabkan oleh proses yang dinamakan nondisjunction dimana pada saat pembentukan gamet (pemisahan pasangan kromosom), kromosom yang mengandung materi genetik gagal ini berpisah secara sempurna sehingga mengakibatkan terjadinya kelebihan kromosom. Nondisjunction merupakan salah satu penyebab terjadinya Trisomy. | Sumber: nickm99.files.wordpress.com Kejadian Down Syndrome lainnya yang jarang terjadi adalah akibat proses yang dinamakan translokasi kromosom, dimana bagian kromosom 21 menempel pada kromosom 21 lainnya pada saat pada saat produksi sel sperma atau sel telur orang tuanya. Kejadian translokasi ini dapat juga terjadi pada tahap awal pembentukan fetus. Kejadian Down Syndrome seperti ini dikenal sebagai translocation Down syndrome. Gagalnya pemisahan kromosom pada saat pembentukan gamet pada sel telur yang mengakibatkan kejadian trisomy pada anak. | Sumber: www.meddean.luc.edu Disamping kedua proses di atas walaupun prosentasenya sangat kecil seorang penderita Down Syndrome hanya memiliki trisomy kromosom 21 di beberapa bagian tubuhnya saja. Kondisi Down Syndrome seperti ini disebut dengan mosaic Down syndrome. Para meneliti menyakini bahwa kelebihan kromosom 21 inilah yang mengganggu perkembangan fetus ke tahapan berikutnya yang menimbulkan kondisi kelainan genetik yang dinamakan Down Syndrome yang berpengaruh pada kesehatan. Apa dampaknya? Down Syndrome sangat kental dicirikan dengan bentuk wajah yang khas dan kelemahan perototan (hypotonia) pada bayi. Di samping itu kondisi ini juga terkait dengan keterlambatan kemampuan kognitif. Namun demikian biasanya gangguan kemampuan intelektualnya dalam skala sedang. Hu YiZhaou penderita Down Syndrome yang menjadi konduktor simponi orkestra ternama. | Photo: www.everlasting.lk Sekitar 50% dari anak yang terlahir dengan Down Syndrome mengalami kelainan jantung. Dalam kasus tertentu penderita Down Syndrome juga mengalami kelainan pencernaan berupa pemblokiran usus. Pada umumnya penderita Down syndrome juga mengalami resiko kesehatan lainnya seperti gastroesophageal reflux dimana terjadi arus balik asam lambung ke esophagus. Disamping itu penderita juga mengalami kondisi yang disebut dengan celiac disease dimana terjadi ketidak toleran terhadap protein gandum yang disebut dengan glutten. Sebanyak 15% dari penderita Down Syndrome mengalami hypothyroidism yang merupakan kondisi dimana kinerja kelenjar thyroid berada di bawah level normal. Ciri umum bayi yang mengalami Down Syndrome. | Sumber: www.womens-health-advice.com Penderita Down Syndrome biasanya juga memiliki resiko tinggi gangguan pendengaran dan penglihatan. Walaupun persentasenya sangat kecil, penderita Down Syndrome juga mengalami kanker sel darah (leukimia). Dalam perkembangannya anak yang mengalami Down Syndrome ini seringkali memiliki masalah pertumbuhan yang terlambat dan juga masalah tingkah laku yang obsesif. Kemampuan berbicara anak yang mengalami Down Syndrome ini bisanya juga lebih lambat jika dibandingkan dengan anak normal. Dalam persentase yang kecil, penderita Down Syndrome dapat menunjukkan gejala autism yang mempengaruhi komunikasi dan interaksi sosial. Penderita Down Syndrome biasanya secara bertahap akan mengalami penurunan kemampuan berpikir ketika usianya mencapai 50 tahun. Down Syndrome sering kali juga dihubungkan sebagai salah satu penyebab pemicu penyakit Alzheimer yaitu suatu kondisi dimana individu secara perlahan kehilangan ingatan. Apakah Down Syndrome diturunkan? Sebagian besar kasus Down Syndrome tidak diturunkan ke generasi berikutnya karena kejadian trisomy kromosom 21 ini sebagian besar terjadi secara acak saat terjadi pembentukan sel reproduksi orang tuanya. Data empiris menunjukkan bahwa kelainan trisomy kromosom 21 ini lebih umum terjadi pada telur jika dibandingkan dengan sperma. Mengingat kejadian trisomy kromosom 21 ini terjadi secara acak, maka cara terbaik bagi orang tua yang diberikan amanah memiliki anak down syndrome adalah memelihara, menyayangi dan mendidiknya dengan sepenuh hati, karena manusia tidak selalu dapat mengerti apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rrnoor/mengenal-lebih-dekat-down-syndrome_56f3980c85afbd4207ca3c21