Minggu, 24 April 2016

Pentingnya penerapan terapi wicara bagi anak tuna rungu


DEFINISI
Istilah tunarungu mungkin tidak asing lagi ditelinga kita, bahkan sebagian besar masyarakat sudah mengenal dengan berbagai macam istilah lain, misalnya: Tuli, bisu, cacat dengar atau kurang dengar. Menurut bahasa istilah tuna rungu berasal dari kata “tuna” yaang berarti kurang, dan “rungu“ yang berarti pendenggaran. Orang atau anak dikatakan tuna rungu apabila ia tidak mampu mendengar suara. Dari batasan beberapa ahli, disimpulkan pengertian tunarungu adalah seseorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan karena tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran, sehingga ia tidak dapat menggnakan alat pendengarannya dalam kehidupan sehari-hari yang membawa dampak terhadap kehidupannya secara kompleks.
KLASIFIKASI
Pada umumnya anak tunarungu digolongkan atau diklasifikasikan menjadi “dua” kelompok besar, yaitu: tuli dan kurang dengar.
  • Orang dikatakan TULI apabila seseorang tersebut mengalami kehilangan kemampuan mendengar, sehingga menghambat proses informasi bahasa melalui pendengaran, baik memakai ataupun tidak memakai alat bantu dengar.
  • Orang kurang dengar adalah seseoraang yang mengalami kehilangan sebagian kemampuan mendengar, tetapi ia masih mempunyaai sisa-sisa pendengaran dan memungkinkan memakai alat bantu mendengar sebagai sarana untuk membantu proses keberhasilan informasi bahasa melalui pendengaran.
Klasifikasi tuna rungu menurut Samuel A.kirk.
  • 0 dB ( decible )
Menunjukkan pendengaran yang optimal.
  • 0 – 26 dB
Menuunjukkan pendeengaran yang normal.
  • 27 – 40 ( tuna rungu ringan )
Mempunyai kesulitan mendengar bunyi-bunyi yang jauh, membutuhkan tempat duduk yang tempatnya strategis dan mmembutuhkan terapi wicara.
  • 41 – 55 ( tuna rungu sedang )
Mengerti bahasa percakapan, tidak dapat mengikuti diskusi kelas, membutuhkan alat bantu dengar dan terapi wicara.
  • 56 – 70 ( tuna rungu agak berat )
Hanya bisa mendengar suara dari jarak yang dekat, mempunyai sisa pendengaran untuk belajar bahasa dan berbicara dengan alat bantu mendngar dan denggan cara khusus.
  • 71 – 90 ( tuna rungu berat )
Hanya bisa mendengar bunyi yang sangat dekat, kadang-kadang dianggap tuli, membutuhkan yang intensif, membutuhkan alat bantu mendengar dan latihan berbicara secara khusus.
  • > 90 ( tuna rungu sangat berat / berat sekali )
Mungkin sadar akan adanya bunyi atau suara dan getaran, banyak bergantung pada penglihatan dari pada pendengaran untuk proses menerima informasi dan yang bersangkutan dianggap tuli.

DETEKSI KETUNARUNGUAN
Mendeteksi kehilangan pendengaran merupakan persoalan tekhnis, dimana mengenali anak tuli lebih mudah di banding mengenali atau menemukan anak yang kurang dengar.
  • Gejala umum anak kurang dengar ringan antara lain :
a. Anak yang acuh tak acuh, kebingungan atau penurut.
b. Anak-anak yang menghayal secara berlebihan.
c. Anak yang prestasinya rendah.
d. Anak yang sedikit mengalami gangguan bicara.
e. Anak yang malas.
f. Anak yang nampak bodoh.

BEBERAPA CARA YANG BISA DILAKUKAN UNTUK MENDETEKSI KETUNARUNGUAN ANTARA LAIN :
a. Tes dengan alat sederhana ( tradisional )
Pada bayi yang mulai meraban dapat dilakukan tes, karena pendengarran anak sudah mulai memegang peran. Dengan mengetukkan sendok pada piring atau dengan panggilan dari sisi belakang atau samping anak. Perhatikan respon yang diberikan anak.
b. Tes dengan uang logam ( coin clik test )
yaitu dengan cara mengetukkan uang logam, dan lihat respon anak terhadap suara tersebut.
    1. Tes denggan detik jam. ( watch tick test )
Pelaksanaan tes diberikan di rung yang sunyi, anak berdiri disamping tester dengan menutup telinga yang tidak di tes, jam di tempatkan dekat dengan telinga dan sedikit deemi sedikit dijauhkan secara horizontal sampai anak tidak dapat mendengar. Menurut praktek, jika anak tidak dapat mendengar detik jam pada jarak 48 inci sampai 16 inci maka ia dianggap kurang dengar.

Pada dasarnya intelegensi dan kemampuan bahasa anak tunarungu sama dengan anak normal. Pada saat bayi, perkembangan bahasa dan bicara anak tunarungu tidak mengalami hambatan, namun pada saat perkembangan meraban anak mencoba menirukan suara yang ada disekitarnya tetapi anak tidak dapat mendengar apa yang telah diucapkannya, dan tidak dapat mendengar respon dari orang yang disekitarnya. Karena keadaan itulah maka anak tunarungu merasa usaha yang dilakukannya sia-sia, sehingga berdampak pada kemalasan anak untuk belajar berbicara. Apabila hal tersebut dibiarkan atau tidak segera mendapat respon aktif dari orang tua atau orang yang ada disekitarnya, maka yang terjadi anak tidak dapat berbicara atau mengalami kesulitan berbicara hingga pada usia dewasa.
Kita sebagai orang tua atau guru harus berperan aktif melatih berbicara anak secara terus menerus, tentunya bertahap mulai dari kata yang sederhana misalnya kata yang disukai anak hinggaa kata-kata yang belum pernah diketahui anak. Pada prinsipnya peran orangg tua dan orang-orang yang ada disekitar anak tunarungu sangat membantu kelancaran berbicara anak tuna tersebut.

Adapun beberapa metode terapi wicara antara lain :
  • Metode lips reading / membaca ujaran
Penekanannya pada kemampuan anak yang diharuskan dapat menangkap bunyi atau suara atau ungkapan seseorang melalui penglihatannya, dengan kata lain anak harus dapat membaca gerak bibir.
  • Metode oral
Cara untuk melatih anak tunarungu dapat berkomunikasi secara lisan (verbal) dengan lingkungan orang mendengar. Yaitu dengan cara melibatkan anak tuunarungu wicara, berbicara secara lisan dalam settiap keesempatan.
  • Metode Manual
Cara mengajaar atau melatih anak tunarungu berkomunikasi dengan menggunakan isyarat atau ejaan jari.
  • Meetode AVT ( Auditori, visual Therapy )
Perpaduan antara penerapan suara, mimik muka, dan bahasa bibir. Tujuannya yaitu dengan suara kita dapt mengoptimalkan sisa pendengaran anak, dengan mimik muka dan bahasa bibir diharapkan anak lebih mengerti atau lebih mudah memahami setiap kata yang diucapkan secara visual.


Hal yang harus diperhatikan dalam speach therpy/ terapi wicara antara lain :
    1. Alat artikulasi anak . ( terdapat / kecacatan atau tidak )
    2. Pembentukan vokal dan konsonan.
    3. Tingkat kurang dengar anak ( ringan, sedang, berat atau sangat berat ).
    4. Tingkat kelainan anak.
Dari beberapa hal diatas perlu mendapat perhatian khusus, karena hal tersebut sangat berpengaruh pada penanganan awal atau apa saja konsep awal yang akan diberikan kepada anak.

Saat ini, tentunya sudah banyak berbagai macam modifikasi terapi yang lebih modern dan lebih detail, namun pada dasarnya semua itu tergantung dari bagaimana cara penangan yang dilakukan terhadap anak. Hendaknya sedini mungkin anak tunarungu wicara dilatih untuk berbicara dan melakukan percakapan-percakan dengan orang normal, agar mereka merasa terbiasa dan organ artikulasinya terlatih sejak dini.

Beberapa cara atau usaha dalam mengembangkan bahasa anak tunarungu menurut edja sajah & dardjo sukarja antara lain :
a. Perkembangan fungsi gerakan untuk kesiapan berbicara. Meliputi :
    • Latihan nafas
    • Latihan alat berbicara
Tujuannya adalah : - mengajak anak menyadari adanya gerakan motorik bicara.
- Kesiapan dalam membentuk bunyi bahasa melalui alat-alat bicara.
- membiaskan bahasa yang benar untuk memmprouksi bunyi bahasa.
- persepsi pendengaran, penglihatan, perabaan dan rasa.
b. Pengembangan fungsi pengertian.
    • Latihan bahasa pasif
    • Latihan perintah
Tujuannya adalah : - Mengembangkan pengertian melalui bahasa verbal.
- Memahami situasi yang dialami
- Melaksanakan perintah verbal
c. Keemampuan berbahasa verbal.
    • Latihan pendengaran
    • Latihan bahasa
    • Latihan berbicara
Tujuannya adalah : - Menanamkan pengertian
- Menstimulasikan anak kearah peniruan secara sistimatis
- Menggunakan bicara dan bahasa
- Mengembangkan dan memfungsikan sisa pendengaran yang dimiliki
- Vokalisasi dan ekspresi
d. Gerakan fungsi motorik, meliputi :
    • Peniruan gerak
    • konsep gerakan yang benar
    • koordinasi gerakan dengan penglihatan.
Tujuannya adalah : - Mengajak anak untuk berinteraksi dengan lingkungan.
- Mengembangkan fungsi motorik yng berhubungan dengan pengertian- pengertian.
- Melaksanakan gerakan-gaerakan secara aktif.

Usaha-usaha diatas dapat dilakukan dan dikembangkan oleh orang tua, dalam hal ini peranan guru sangat diharapkan untuk memberikan saran. Kegiatan-kegiatan dan rangsangan tersebut hendaknya dapat menunjang perkembangan anak, terutama kompetensi berbahasa anak. Pendidikan informal ini dapat dilaksanakan sedini mungkin agar anak lebih terbiasa berkomunikasi dan dapat berinteraksi secara normal dan tanpa ada rasa minder didalam lingkungan masyarakat.

Mengenal Lebih Dekat dengan Down Syndrome

Pengertian Down Syndrome

      Down syndrome pertama kali diperkenalkan oleh dokter berkebangsaan Inggris, Dr. John Longdon Down pada tahun 1866. Penelitian ini dilakukan terhadap sekumpulan orang yang memiliki kesamaan struktur wajah. Sembilan puluh tiga tahun kemudian tepatnya pada tahun 1959, Dr. Jerome Lejeune membuktikan penyebab dari sindrom tersebut. Sekarang down syndrome dikenal sebagai gangguan genetik yang disebabkan oleh perkembangan abnormal pada kromosom.
Saat dilahirkan, bayi normal memiliki 46 kromosom yang terdiri dari 22 pasang autosom dan 1 pasang kromosom seks yang akan menentukan jenis kelamin. Namun, pada bayi penderita down syndrome ditemukan kelainan kromosom pada berkas 21. Terdapat tiga kondisi kelainan kromosom 21 yang menyebabkan terjadinya down syndrome yaitu non-disjunction, translocation dan mosaic.
Sebagian besar kelainan kromosom pada penderita down syndrome disebabkan oleh kondisi non-disjunction. Pada kategori ini penderita memiliki tiga kromosom pada berkas 21 yang idealnya hanya terdapat sepasang kromosom. Hal ini disebabkan tidak sempurnanya pembelahan sel secara mitosis. Tipe ini biasa disebut dengan trisomy 21. Pada ibu dengan usia lebih dari 40 tahun, ditemukan resiko lebih besar terjadinya kelainan kromosom tipe ini.
Translocation merupakan kelainan kromosom yang terjadi karena adanya pencampuran kromosom berkas 21 pada kromosom berkas lain (biasanya terjadi pada berkas 14). Penderita down syndrome dengan kelainan kromosom yang disebabkan oleh translocation memiliki jumlah kromosom seperti bayi normal yaitu 46 kromosom. Kondisi ini biasa terjadi pada ibu dengan usia muda.
Terakhir adalah tipe mosaic, tipe ini memiliki kromosom trisomy sama dengan tipe non-disjunction. Secara klinis, tipe ini dianggap lebih ringan karena terdapat sel normal dan sel abnormal yang hidup berdampingan.

Penyebab dan ciri penderita down syndrome.

      Menurut Psikolog Anak Firesta Farizal, M.Psi.,Psikolog.,berdasarkan literatur, ada sejumlah faktor yang diduga dapat memperbesar resiko kemungkinan munculnya gangguan down syndrome, salah satunya adalah ibu dengan usia lebih dari 40 tahun.“Semakin tua usia ibu, semakin besar perbandingan resiko ia dapat melahirkan anak dengan gangguan down syndrome.”, jelas Psikolog Anak yang akrab disapa Ibu Etha ini.
Bila dilihat secara fisik, si kecil dengan gangguan down syndrome memiliki ciri fisik yang cenderung mirip. Postur tubuh mereka cenderung lebih pendek dari anak seusianya dengan kepala relatif kecil. Bentuk mata sipit seperti almond dan memiliki lipatan pada bagian luar dengan jarak antar mata cukup jauh. Penderita memiliki mulut kecil dengan lidah yang tebal atau lebar, sehingga lidah menjulur keluar. Kadang hanya ditemukan garis tunggal yang memotong secara horizontal telapak tangannya (simian crease). Mereka juga memiliki otot-otot yang lemah sehingga cenderung terlihat lemas dan terkulai.
Sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah dari anak normal, membuat si kecil rentan terhadap penyakit. Tidak hanya itu, ditemukan juga komplikasi penyakit pada si kecil. Komplikasi yang ditemukan pada setiap individu berbeda dan bervariasi. komplikasi ini terjadi karena perkembangan organ yang tidak sempurna. Ada yang memiliki sistem pendengaran yang kurang baik, atau gangguan pencernaan. Ada juga yang memiliki penyakit jantung bawaan, leukemia atau infeksi paru-paru. Pada indera penglihatan sering ditemui miopi atau presbiopi dan katarak pada usia dewasa.
“Si kecil dengan gangguan down syndrome juga mengalami keterlambatan pertumbuhan mental. Umumnya penderita memiliki kisaran IQ area mental retardasi mild (ringan) and moderate (sedang), yaitu dibawah 50. Dengan kisaran IQ anak normal sekitar 90-110.”, sambung bu Etha dalam wawancara di sela-sela kesibukanya.

Deteksi dan Intervensi sejak dini.

       Gangguan down syndrome dapat dideteksi sejak dalam kandungan. Salah satu cara dengan memonitor perkembangan janin melalui usg. Dari hasil usg dapat dilihat ciri fisik bayi dan pertumbuhan organnya. Kemudian dilanjutkan dengan tes kromosom untuk memastikan apakah bayi tersebut memiliki kelainan kromosom.
Dengan dideteksi sejak masa kandungan, si kecil dengan gangguan down syndrome akan mendapatkan penanganan sejak dini. Intervensi sejak dini bertujuan untuk membantu tumbuh kembangnya.Si kecil yang diberikan rangsangan dan stimulus secara konsisten,perkembangan otaknya akan meningkat sehingga perkembangannya akan lebih optimal dibandingkan dengan anak yang tidak mendapatkan intervensi dini. Orang tua dapat berkonsultasi dengan Dokter Anak atau Psikolog Anak untuk menentukan intervensi yang diperlukan.
Idealnya si kecil akan membutuhkan terapi atau latihan untuk menstimulus tumbuh kembangnya. Terapi atau latihan dilakukan secara bertahap tanpa terikat batas waktu.Setiap individu memiliki grafik perkembangannya sendiri. Jika si kecil telah menguasai satu keterampilan maka target akan meningkat ke keterampilan yang lebih sulit. Terdapat beberapa tingkat keterampilan yang perlu di kuasai si kecil agar iadapat hidup secara mandiri.
Tahap pertama si kecil membutuhkan fisioterapi untuk menguatkan otot-ototnya sehingga ia dapat mengembangkan kemampuan motorik kasar seperti tengkurap, merangkak dan berdiri. Selanjutnya, si kecil membutuhkan terapi wicara agar dapat menguasai komunikasi bicara. Tahap ketiga, terapi okupasi untuk membantu si kecil menguasai keterampilan motorik halus, seperti mengancingkan baju dan menulis. Jika si kecil telah mengenyam pendidikan, maka iaakan membutuhkan terapi edukasi untuk membantunya dalam hal akademis.
Dibalik kekurangan penderita down syndrome terdapat kelebihan yang terpancar. Semangat juang si kecil untuk tumbuh dan berkembang perlu diacungi jempol. Walau harus berjuang sejak dilahirkan tapi senyum si kecil tak lepas dari wajahnya. Penderita gangguan down syndrome ada bukan untuk dihindari tapi mereka ada untuk dikasihi. Selamat hari down syndrome sedunia.
Agar dapat lebih mengerti kelainan ini ada baiknya kita mengingat kembali jumlah kromosom normal pada manusia. Setiap individu normal memiliki sebanyak 23 pasang kromosom dengan jumlah total 46 kromosom. Jumlah 46 kromosom yang dimiliki seseorang ini berasal ayah dan ibunya yang masing masing berkontribusi sebanyak 23 kromosom. Apabila dalam keadaan tertentu seseorang jumlah kromosom yang dimilikinya kurang ataupun melebihi dari jumlah kromosom normal ini, maka akan muncul abnormalitas. Salah satu kelainan jumlah kromosom yang ingin saya bahas kali ini adalah Down Syndrome. Menurut WHO di seluruh dunia diperkirakan kejadian Down Syndrome ini 1 dari setiap 1000 kelahiran. Walaupun sampai saat ini penyebab pasti Down Syndrome masih belum ditemukan, namun data di lapangan menunjukkan bahwa dengan semakin berumurnya seorang ibu, maka peluang untuk mendapatkan anak Down Syndrome ini akan semakin meningkat. Apa itu Down Syndrome? Sebagian besar Down Syndrome menyangkut kelainan kromosom dimana kromosom nomor 21 jumlahnya tidak sepasang sebagaimana yang terjadi pada individu normal namun jumlahnya tiga buah (dalam ilmu genetika disebut dengan trisomy). Trisomy kromosom 21 ini umumnya ditemukan di setiap sel penderita Down Syndrome. Trisomy pada kromosom 21 penderita Down Syndrome. | Sumber: 1.bp.blogspot.com Sebagian besar kejadian trisomy kromosom 21 ini disebabkan oleh proses yang dinamakan nondisjunction dimana pada saat pembentukan gamet (pemisahan pasangan kromosom), kromosom yang mengandung materi genetik gagal ini berpisah secara sempurna sehingga mengakibatkan terjadinya kelebihan kromosom. Nondisjunction merupakan salah satu penyebab terjadinya Trisomy. | Sumber: nickm99.files.wordpress.com Kejadian Down Syndrome lainnya yang jarang terjadi adalah akibat proses yang dinamakan translokasi kromosom, dimana bagian kromosom 21 menempel pada kromosom 21 lainnya pada saat pada saat produksi sel sperma atau sel telur orang tuanya. Kejadian translokasi ini dapat juga terjadi pada tahap awal pembentukan fetus. Kejadian Down Syndrome seperti ini dikenal sebagai translocation Down syndrome. Gagalnya pemisahan kromosom pada saat pembentukan gamet pada sel telur yang mengakibatkan kejadian trisomy pada anak. | Sumber: www.meddean.luc.edu Disamping kedua proses di atas walaupun prosentasenya sangat kecil seorang penderita Down Syndrome hanya memiliki trisomy kromosom 21 di beberapa bagian tubuhnya saja. Kondisi Down Syndrome seperti ini disebut dengan mosaic Down syndrome. Para meneliti menyakini bahwa kelebihan kromosom 21 inilah yang mengganggu perkembangan fetus ke tahapan berikutnya yang menimbulkan kondisi kelainan genetik yang dinamakan Down Syndrome yang berpengaruh pada kesehatan. Apa dampaknya? Down Syndrome sangat kental dicirikan dengan bentuk wajah yang khas dan kelemahan perototan (hypotonia) pada bayi. Di samping itu kondisi ini juga terkait dengan keterlambatan kemampuan kognitif. Namun demikian biasanya gangguan kemampuan intelektualnya dalam skala sedang. Hu YiZhaou penderita Down Syndrome yang menjadi konduktor simponi orkestra ternama. | Photo: www.everlasting.lk Sekitar 50% dari anak yang terlahir dengan Down Syndrome mengalami kelainan jantung. Dalam kasus tertentu penderita Down Syndrome juga mengalami kelainan pencernaan berupa pemblokiran usus. Pada umumnya penderita Down syndrome juga mengalami resiko kesehatan lainnya seperti gastroesophageal reflux dimana terjadi arus balik asam lambung ke esophagus. Disamping itu penderita juga mengalami kondisi yang disebut dengan celiac disease dimana terjadi ketidak toleran terhadap protein gandum yang disebut dengan glutten. Sebanyak 15% dari penderita Down Syndrome mengalami hypothyroidism yang merupakan kondisi dimana kinerja kelenjar thyroid berada di bawah level normal. Ciri umum bayi yang mengalami Down Syndrome. | Sumber: www.womens-health-advice.com Penderita Down Syndrome biasanya juga memiliki resiko tinggi gangguan pendengaran dan penglihatan. Walaupun persentasenya sangat kecil, penderita Down Syndrome juga mengalami kanker sel darah (leukimia). Dalam perkembangannya anak yang mengalami Down Syndrome ini seringkali memiliki masalah pertumbuhan yang terlambat dan juga masalah tingkah laku yang obsesif. Kemampuan berbicara anak yang mengalami Down Syndrome ini bisanya juga lebih lambat jika dibandingkan dengan anak normal. Dalam persentase yang kecil, penderita Down Syndrome dapat menunjukkan gejala autism yang mempengaruhi komunikasi dan interaksi sosial. Penderita Down Syndrome biasanya secara bertahap akan mengalami penurunan kemampuan berpikir ketika usianya mencapai 50 tahun. Down Syndrome sering kali juga dihubungkan sebagai salah satu penyebab pemicu penyakit Alzheimer yaitu suatu kondisi dimana individu secara perlahan kehilangan ingatan. Apakah Down Syndrome diturunkan? Sebagian besar kasus Down Syndrome tidak diturunkan ke generasi berikutnya karena kejadian trisomy kromosom 21 ini sebagian besar terjadi secara acak saat terjadi pembentukan sel reproduksi orang tuanya. Data empiris menunjukkan bahwa kelainan trisomy kromosom 21 ini lebih umum terjadi pada telur jika dibandingkan dengan sperma. Mengingat kejadian trisomy kromosom 21 ini terjadi secara acak, maka cara terbaik bagi orang tua yang diberikan amanah memiliki anak down syndrome adalah memelihara, menyayangi dan mendidiknya dengan sepenuh hati, karena manusia tidak selalu dapat mengerti apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rrnoor/mengenal-lebih-dekat-down-syndrome_56f3980c85afbd4207ca3c21
Agar dapat lebih mengerti kelainan ini ada baiknya kita mengingat kembali jumlah kromosom normal pada manusia. Setiap individu normal memiliki sebanyak 23 pasang kromosom dengan jumlah total 46 kromosom. Jumlah 46 kromosom yang dimiliki seseorang ini berasal ayah dan ibunya yang masing masing berkontribusi sebanyak 23 kromosom. Apabila dalam keadaan tertentu seseorang jumlah kromosom yang dimilikinya kurang ataupun melebihi dari jumlah kromosom normal ini, maka akan muncul abnormalitas. Salah satu kelainan jumlah kromosom yang ingin saya bahas kali ini adalah Down Syndrome. Menurut WHO di seluruh dunia diperkirakan kejadian Down Syndrome ini 1 dari setiap 1000 kelahiran. Walaupun sampai saat ini penyebab pasti Down Syndrome masih belum ditemukan, namun data di lapangan menunjukkan bahwa dengan semakin berumurnya seorang ibu, maka peluang untuk mendapatkan anak Down Syndrome ini akan semakin meningkat. Apa itu Down Syndrome? Sebagian besar Down Syndrome menyangkut kelainan kromosom dimana kromosom nomor 21 jumlahnya tidak sepasang sebagaimana yang terjadi pada individu normal namun jumlahnya tiga buah (dalam ilmu genetika disebut dengan trisomy). Trisomy kromosom 21 ini umumnya ditemukan di setiap sel penderita Down Syndrome. Trisomy pada kromosom 21 penderita Down Syndrome. | Sumber: 1.bp.blogspot.com Sebagian besar kejadian trisomy kromosom 21 ini disebabkan oleh proses yang dinamakan nondisjunction dimana pada saat pembentukan gamet (pemisahan pasangan kromosom), kromosom yang mengandung materi genetik gagal ini berpisah secara sempurna sehingga mengakibatkan terjadinya kelebihan kromosom. Nondisjunction merupakan salah satu penyebab terjadinya Trisomy. | Sumber: nickm99.files.wordpress.com Kejadian Down Syndrome lainnya yang jarang terjadi adalah akibat proses yang dinamakan translokasi kromosom, dimana bagian kromosom 21 menempel pada kromosom 21 lainnya pada saat pada saat produksi sel sperma atau sel telur orang tuanya. Kejadian translokasi ini dapat juga terjadi pada tahap awal pembentukan fetus. Kejadian Down Syndrome seperti ini dikenal sebagai translocation Down syndrome. Gagalnya pemisahan kromosom pada saat pembentukan gamet pada sel telur yang mengakibatkan kejadian trisomy pada anak. | Sumber: www.meddean.luc.edu Disamping kedua proses di atas walaupun prosentasenya sangat kecil seorang penderita Down Syndrome hanya memiliki trisomy kromosom 21 di beberapa bagian tubuhnya saja. Kondisi Down Syndrome seperti ini disebut dengan mosaic Down syndrome. Para meneliti menyakini bahwa kelebihan kromosom 21 inilah yang mengganggu perkembangan fetus ke tahapan berikutnya yang menimbulkan kondisi kelainan genetik yang dinamakan Down Syndrome yang berpengaruh pada kesehatan. Apa dampaknya? Down Syndrome sangat kental dicirikan dengan bentuk wajah yang khas dan kelemahan perototan (hypotonia) pada bayi. Di samping itu kondisi ini juga terkait dengan keterlambatan kemampuan kognitif. Namun demikian biasanya gangguan kemampuan intelektualnya dalam skala sedang. Hu YiZhaou penderita Down Syndrome yang menjadi konduktor simponi orkestra ternama. | Photo: www.everlasting.lk Sekitar 50% dari anak yang terlahir dengan Down Syndrome mengalami kelainan jantung. Dalam kasus tertentu penderita Down Syndrome juga mengalami kelainan pencernaan berupa pemblokiran usus. Pada umumnya penderita Down syndrome juga mengalami resiko kesehatan lainnya seperti gastroesophageal reflux dimana terjadi arus balik asam lambung ke esophagus. Disamping itu penderita juga mengalami kondisi yang disebut dengan celiac disease dimana terjadi ketidak toleran terhadap protein gandum yang disebut dengan glutten. Sebanyak 15% dari penderita Down Syndrome mengalami hypothyroidism yang merupakan kondisi dimana kinerja kelenjar thyroid berada di bawah level normal. Ciri umum bayi yang mengalami Down Syndrome. | Sumber: www.womens-health-advice.com Penderita Down Syndrome biasanya juga memiliki resiko tinggi gangguan pendengaran dan penglihatan. Walaupun persentasenya sangat kecil, penderita Down Syndrome juga mengalami kanker sel darah (leukimia). Dalam perkembangannya anak yang mengalami Down Syndrome ini seringkali memiliki masalah pertumbuhan yang terlambat dan juga masalah tingkah laku yang obsesif. Kemampuan berbicara anak yang mengalami Down Syndrome ini bisanya juga lebih lambat jika dibandingkan dengan anak normal. Dalam persentase yang kecil, penderita Down Syndrome dapat menunjukkan gejala autism yang mempengaruhi komunikasi dan interaksi sosial. Penderita Down Syndrome biasanya secara bertahap akan mengalami penurunan kemampuan berpikir ketika usianya mencapai 50 tahun. Down Syndrome sering kali juga dihubungkan sebagai salah satu penyebab pemicu penyakit Alzheimer yaitu suatu kondisi dimana individu secara perlahan kehilangan ingatan. Apakah Down Syndrome diturunkan? Sebagian besar kasus Down Syndrome tidak diturunkan ke generasi berikutnya karena kejadian trisomy kromosom 21 ini sebagian besar terjadi secara acak saat terjadi pembentukan sel reproduksi orang tuanya. Data empiris menunjukkan bahwa kelainan trisomy kromosom 21 ini lebih umum terjadi pada telur jika dibandingkan dengan sperma. Mengingat kejadian trisomy kromosom 21 ini terjadi secara acak, maka cara terbaik bagi orang tua yang diberikan amanah memiliki anak down syndrome adalah memelihara, menyayangi dan mendidiknya dengan sepenuh hati, karena manusia tidak selalu dapat mengerti apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rrnoor/mengenal-lebih-dekat-down-syndrome_56f3980c85afbd4207ca3c21
Agar dapat lebih mengerti kelainan ini ada baiknya kita mengingat kembali jumlah kromosom normal pada manusia. Setiap individu normal memiliki sebanyak 23 pasang kromosom dengan jumlah total 46 kromosom. Jumlah 46 kromosom yang dimiliki seseorang ini berasal ayah dan ibunya yang masing masing berkontribusi sebanyak 23 kromosom. Apabila dalam keadaan tertentu seseorang jumlah kromosom yang dimilikinya kurang ataupun melebihi dari jumlah kromosom normal ini, maka akan muncul abnormalitas. Salah satu kelainan jumlah kromosom yang ingin saya bahas kali ini adalah Down Syndrome. Menurut WHO di seluruh dunia diperkirakan kejadian Down Syndrome ini 1 dari setiap 1000 kelahiran. Walaupun sampai saat ini penyebab pasti Down Syndrome masih belum ditemukan, namun data di lapangan menunjukkan bahwa dengan semakin berumurnya seorang ibu, maka peluang untuk mendapatkan anak Down Syndrome ini akan semakin meningkat. Apa itu Down Syndrome? Sebagian besar Down Syndrome menyangkut kelainan kromosom dimana kromosom nomor 21 jumlahnya tidak sepasang sebagaimana yang terjadi pada individu normal namun jumlahnya tiga buah (dalam ilmu genetika disebut dengan trisomy). Trisomy kromosom 21 ini umumnya ditemukan di setiap sel penderita Down Syndrome. Trisomy pada kromosom 21 penderita Down Syndrome. | Sumber: 1.bp.blogspot.com Sebagian besar kejadian trisomy kromosom 21 ini disebabkan oleh proses yang dinamakan nondisjunction dimana pada saat pembentukan gamet (pemisahan pasangan kromosom), kromosom yang mengandung materi genetik gagal ini berpisah secara sempurna sehingga mengakibatkan terjadinya kelebihan kromosom. Nondisjunction merupakan salah satu penyebab terjadinya Trisomy. | Sumber: nickm99.files.wordpress.com Kejadian Down Syndrome lainnya yang jarang terjadi adalah akibat proses yang dinamakan translokasi kromosom, dimana bagian kromosom 21 menempel pada kromosom 21 lainnya pada saat pada saat produksi sel sperma atau sel telur orang tuanya. Kejadian translokasi ini dapat juga terjadi pada tahap awal pembentukan fetus. Kejadian Down Syndrome seperti ini dikenal sebagai translocation Down syndrome. Gagalnya pemisahan kromosom pada saat pembentukan gamet pada sel telur yang mengakibatkan kejadian trisomy pada anak. | Sumber: www.meddean.luc.edu Disamping kedua proses di atas walaupun prosentasenya sangat kecil seorang penderita Down Syndrome hanya memiliki trisomy kromosom 21 di beberapa bagian tubuhnya saja. Kondisi Down Syndrome seperti ini disebut dengan mosaic Down syndrome. Para meneliti menyakini bahwa kelebihan kromosom 21 inilah yang mengganggu perkembangan fetus ke tahapan berikutnya yang menimbulkan kondisi kelainan genetik yang dinamakan Down Syndrome yang berpengaruh pada kesehatan. Apa dampaknya? Down Syndrome sangat kental dicirikan dengan bentuk wajah yang khas dan kelemahan perototan (hypotonia) pada bayi. Di samping itu kondisi ini juga terkait dengan keterlambatan kemampuan kognitif. Namun demikian biasanya gangguan kemampuan intelektualnya dalam skala sedang. Hu YiZhaou penderita Down Syndrome yang menjadi konduktor simponi orkestra ternama. | Photo: www.everlasting.lk Sekitar 50% dari anak yang terlahir dengan Down Syndrome mengalami kelainan jantung. Dalam kasus tertentu penderita Down Syndrome juga mengalami kelainan pencernaan berupa pemblokiran usus. Pada umumnya penderita Down syndrome juga mengalami resiko kesehatan lainnya seperti gastroesophageal reflux dimana terjadi arus balik asam lambung ke esophagus. Disamping itu penderita juga mengalami kondisi yang disebut dengan celiac disease dimana terjadi ketidak toleran terhadap protein gandum yang disebut dengan glutten. Sebanyak 15% dari penderita Down Syndrome mengalami hypothyroidism yang merupakan kondisi dimana kinerja kelenjar thyroid berada di bawah level normal. Ciri umum bayi yang mengalami Down Syndrome. | Sumber: www.womens-health-advice.com Penderita Down Syndrome biasanya juga memiliki resiko tinggi gangguan pendengaran dan penglihatan. Walaupun persentasenya sangat kecil, penderita Down Syndrome juga mengalami kanker sel darah (leukimia). Dalam perkembangannya anak yang mengalami Down Syndrome ini seringkali memiliki masalah pertumbuhan yang terlambat dan juga masalah tingkah laku yang obsesif. Kemampuan berbicara anak yang mengalami Down Syndrome ini bisanya juga lebih lambat jika dibandingkan dengan anak normal. Dalam persentase yang kecil, penderita Down Syndrome dapat menunjukkan gejala autism yang mempengaruhi komunikasi dan interaksi sosial. Penderita Down Syndrome biasanya secara bertahap akan mengalami penurunan kemampuan berpikir ketika usianya mencapai 50 tahun. Down Syndrome sering kali juga dihubungkan sebagai salah satu penyebab pemicu penyakit Alzheimer yaitu suatu kondisi dimana individu secara perlahan kehilangan ingatan. Apakah Down Syndrome diturunkan? Sebagian besar kasus Down Syndrome tidak diturunkan ke generasi berikutnya karena kejadian trisomy kromosom 21 ini sebagian besar terjadi secara acak saat terjadi pembentukan sel reproduksi orang tuanya. Data empiris menunjukkan bahwa kelainan trisomy kromosom 21 ini lebih umum terjadi pada telur jika dibandingkan dengan sperma. Mengingat kejadian trisomy kromosom 21 ini terjadi secara acak, maka cara terbaik bagi orang tua yang diberikan amanah memiliki anak down syndrome adalah memelihara, menyayangi dan mendidiknya dengan sepenuh hati, karena manusia tidak selalu dapat mengerti apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rrnoor/mengenal-lebih-dekat-down-syndrome_56f3980c85afbd4207ca3c21
Agar dapat lebih mengerti kelainan ini ada baiknya kita mengingat kembali jumlah kromosom normal pada manusia. Setiap individu normal memiliki sebanyak 23 pasang kromosom dengan jumlah total 46 kromosom. Jumlah 46 kromosom yang dimiliki seseorang ini berasal ayah dan ibunya yang masing masing berkontribusi sebanyak 23 kromosom. Apabila dalam keadaan tertentu seseorang jumlah kromosom yang dimilikinya kurang ataupun melebihi dari jumlah kromosom normal ini, maka akan muncul abnormalitas. Salah satu kelainan jumlah kromosom yang ingin saya bahas kali ini adalah Down Syndrome. Menurut WHO di seluruh dunia diperkirakan kejadian Down Syndrome ini 1 dari setiap 1000 kelahiran. Walaupun sampai saat ini penyebab pasti Down Syndrome masih belum ditemukan, namun data di lapangan menunjukkan bahwa dengan semakin berumurnya seorang ibu, maka peluang untuk mendapatkan anak Down Syndrome ini akan semakin meningkat. Apa itu Down Syndrome? Sebagian besar Down Syndrome menyangkut kelainan kromosom dimana kromosom nomor 21 jumlahnya tidak sepasang sebagaimana yang terjadi pada individu normal namun jumlahnya tiga buah (dalam ilmu genetika disebut dengan trisomy). Trisomy kromosom 21 ini umumnya ditemukan di setiap sel penderita Down Syndrome. Trisomy pada kromosom 21 penderita Down Syndrome. | Sumber: 1.bp.blogspot.com Sebagian besar kejadian trisomy kromosom 21 ini disebabkan oleh proses yang dinamakan nondisjunction dimana pada saat pembentukan gamet (pemisahan pasangan kromosom), kromosom yang mengandung materi genetik gagal ini berpisah secara sempurna sehingga mengakibatkan terjadinya kelebihan kromosom. Nondisjunction merupakan salah satu penyebab terjadinya Trisomy. | Sumber: nickm99.files.wordpress.com Kejadian Down Syndrome lainnya yang jarang terjadi adalah akibat proses yang dinamakan translokasi kromosom, dimana bagian kromosom 21 menempel pada kromosom 21 lainnya pada saat pada saat produksi sel sperma atau sel telur orang tuanya. Kejadian translokasi ini dapat juga terjadi pada tahap awal pembentukan fetus. Kejadian Down Syndrome seperti ini dikenal sebagai translocation Down syndrome. Gagalnya pemisahan kromosom pada saat pembentukan gamet pada sel telur yang mengakibatkan kejadian trisomy pada anak. | Sumber: www.meddean.luc.edu Disamping kedua proses di atas walaupun prosentasenya sangat kecil seorang penderita Down Syndrome hanya memiliki trisomy kromosom 21 di beberapa bagian tubuhnya saja. Kondisi Down Syndrome seperti ini disebut dengan mosaic Down syndrome. Para meneliti menyakini bahwa kelebihan kromosom 21 inilah yang mengganggu perkembangan fetus ke tahapan berikutnya yang menimbulkan kondisi kelainan genetik yang dinamakan Down Syndrome yang berpengaruh pada kesehatan. Apa dampaknya? Down Syndrome sangat kental dicirikan dengan bentuk wajah yang khas dan kelemahan perototan (hypotonia) pada bayi. Di samping itu kondisi ini juga terkait dengan keterlambatan kemampuan kognitif. Namun demikian biasanya gangguan kemampuan intelektualnya dalam skala sedang. Hu YiZhaou penderita Down Syndrome yang menjadi konduktor simponi orkestra ternama. | Photo: www.everlasting.lk Sekitar 50% dari anak yang terlahir dengan Down Syndrome mengalami kelainan jantung. Dalam kasus tertentu penderita Down Syndrome juga mengalami kelainan pencernaan berupa pemblokiran usus. Pada umumnya penderita Down syndrome juga mengalami resiko kesehatan lainnya seperti gastroesophageal reflux dimana terjadi arus balik asam lambung ke esophagus. Disamping itu penderita juga mengalami kondisi yang disebut dengan celiac disease dimana terjadi ketidak toleran terhadap protein gandum yang disebut dengan glutten. Sebanyak 15% dari penderita Down Syndrome mengalami hypothyroidism yang merupakan kondisi dimana kinerja kelenjar thyroid berada di bawah level normal. Ciri umum bayi yang mengalami Down Syndrome. | Sumber: www.womens-health-advice.com Penderita Down Syndrome biasanya juga memiliki resiko tinggi gangguan pendengaran dan penglihatan. Walaupun persentasenya sangat kecil, penderita Down Syndrome juga mengalami kanker sel darah (leukimia). Dalam perkembangannya anak yang mengalami Down Syndrome ini seringkali memiliki masalah pertumbuhan yang terlambat dan juga masalah tingkah laku yang obsesif. Kemampuan berbicara anak yang mengalami Down Syndrome ini bisanya juga lebih lambat jika dibandingkan dengan anak normal. Dalam persentase yang kecil, penderita Down Syndrome dapat menunjukkan gejala autism yang mempengaruhi komunikasi dan interaksi sosial. Penderita Down Syndrome biasanya secara bertahap akan mengalami penurunan kemampuan berpikir ketika usianya mencapai 50 tahun. Down Syndrome sering kali juga dihubungkan sebagai salah satu penyebab pemicu penyakit Alzheimer yaitu suatu kondisi dimana individu secara perlahan kehilangan ingatan. Apakah Down Syndrome diturunkan? Sebagian besar kasus Down Syndrome tidak diturunkan ke generasi berikutnya karena kejadian trisomy kromosom 21 ini sebagian besar terjadi secara acak saat terjadi pembentukan sel reproduksi orang tuanya. Data empiris menunjukkan bahwa kelainan trisomy kromosom 21 ini lebih umum terjadi pada telur jika dibandingkan dengan sperma. Mengingat kejadian trisomy kromosom 21 ini terjadi secara acak, maka cara terbaik bagi orang tua yang diberikan amanah memiliki anak down syndrome adalah memelihara, menyayangi dan mendidiknya dengan sepenuh hati, karena manusia tidak selalu dapat mengerti apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rrnoor/mengenal-lebih-dekat-down-syndrome_56f3980c85afbd4207ca3c21

Teknik Pembelajaran Untuk Anak Tunanetra

Anak tunanetra adalah anak berkebutuhan khusus yang kehilangan penglihatan sehingga memberikan dampak bagi perkembangan para penyandangnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dampak yang nyata dari tunanetra tersebut adalah keterbatasan atau kehilangan alat orientasi yang utama, kesulitan bahkan tidak mampu untuk menulis dan membaca huruf serta kesulitan dalam melakukan mobilitas.
Oleh sebab itu, anak tunanetra membutuhkan strategi pembelajaran dalam pendidikan sehingga memberikan dampak yang baik bagi perkembangannya. Salah satunya adalah memberikan keterampilan khusus agar mereka dapat melakukan mobilitas dengan cepat, aman dan tepat.
Permasalahan untuk strategi pembelajaran dalam pendidikan anak tunanetra berdasarkan pada dua pemikiran, yaitu :
  1. Upaya memodifikasi lingkungan supaya sesuai dengan kondisi anak tunanetra
  2. Upaya pemanfaatan secara optimal indera-indera lain yang masih berfungsi dengan baik untuk mengimbangi kelemahan akibat hilangnya fungsi penglihatan.
Teknik pembelajaran anak tunanetra pada hakekatnya merupakan strategi umum yang diterapkan dalam kerangka dua pemikiran tersebut. Langkah pertama seorang guru harus bisa menguasai teknik pembelajaran yang umum dilakukan pada anak-anak normal seperti meliputi tujuan, alat, materi, cara, lingkungan dan aspek lainnya. Kedua, menganalisa komponen-komponen mana saja yang perlu untuk dirubah maupun tidak perlu. Selanjutnya pemanfaatan indera lainnya yang masih berfungsi secara optimal dan terpadu sebagai pemegang peran penting dalam menentukan keberhasilan belajar.
Dalam pembelajaran anak tunanetra, ada beberapa prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah :

Prinsip Individual

Prinsip individual merupakan prinsip umum dalam sebuah pembelajaran manapun (pendidikan umum maupun pendidikan anak berkebutuhan khusus) dimana guru dituntut untuk memperhatikan adanya perbedaan masing-masing individu. Dalam pendidikan anak tunanetra, dimensi perbedaan untuk individu itu sendiri menjadi lebih luas dan juga kompleks. Secara umum harus ada perbedaan layanan pendidikan antara anak yang mengalami kebutaan total dengan anak low vision. Prinsip individu ini mengisyaratkan bahwa guru perlu merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan keadaan si anak.

Prinsip kekonkritan atau pengalaman penginderaan

Strategi pembelajaran dalam pendidikan yang digunakan oleh guru harus dapat memungkinkan anak tunanetramemperoleh pengalaman secara nyata dari apa yang telah dipelajarinya. Strategi pembelajaran dalam pendidikan harus memungkinkan adanya akses secara langsung terhadap situasi atau objek. Anak-anak tunanetra harus dibimbing untuk meraba, mencium, mendengar, mengecap dan lain sebagainya. Prinsip ini erat kaitannya dengan komponen alat atau media serta lingkungan pembelajaran. Untuk itu perlu disediakan media pembelajaran yang bisa mendukung dan relevan.

Prinsip totalitas

 Strategi pembelajaran yang dilakukan harus memungkinkan siswa untuk memperoleh pengalaman objek atau situasi secara utuh, caranya dengan guru mendorong siswa untuk melibatkan semua alat indera secara terpadu dalam memahami sebuah konsep. Misalnya saja, untuk mendapatkan gambaran tentang burung, anak tunanetra harus melibatkan indera perabaan untuk mengenali bentuk dan ukuran, sifat permukaan dan kehangatan. Selanjutnya harus memanfaatkan pendengaran untuk mengenali suara burung bahkan anak tunanetra bisa memanfaatkan penciumannya untuk mengenali bau khas burung. Kehilangan penglihatan bagi anak tunanetra menyebabkan dirinya sulituntuk mendapatkan sebuah gambaran utuh dan menyeluruh mengenai objek tertentu. Oleh sebab itu, perabaan dan beberapa teknik penggunaannya sangatlah penting dalam hal ini.

Prinsip aktivitas mandiri (selfactivity)

Strategi pembelajaran dalam pendidikan anak tunanetra harus bisa mendorong anak tunanetra agar belajar secara aktif dan mandiri. Anak tunanetra belajar untuk mencari dan menemukan sedangkan guru hanya sebagai fasilitator yang memudahkan para siswa untuk belajar serta sevagai motivator yang membangkitkan keinginan anak untuk mau belajar. Prinsip keempat dalam strategi pembelajaran ini harus memungkinkan siswa untuk mau bekerja dan mengalami, tidak untuk mendengar dan mencatatnya. Keharusan ini memiliki implikasi bahwa seorang siswa perlu mengetahui, menguasai serta menjalani suatu proses untuk memperoleh fakta dan konsep.
Dalam strategi pembelajaran untuk anak tunanetra ini, tugas guru adalah mencermati setiap bagian dari kurikulum yang diajarkan. Kurikulum mana yang harus disampaikan secara utuh tanpa mengalami perubahan dan mana yang harus dimodifikasi bahkan harus dihilangkan sama sekali.